INDOPOSCO.ID – Kontestasi menuju Pilpres 2029 perlahan mulai memunculkan peta awal. Menariknya, sorotan justru bukan pada calon presiden (capres), melainkan pada siapa yang akan mendampingi Presiden Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden (cawapres).
Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio melihat ada tiga nama yang berpotensi masuk radar kuat: Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Wakil Presiden saat ini Gibran Rakabuming Raka.
Pria yang akrab disapa Hensa itu menilai, pertarungan untuk posisi cawapres justru akan jauh lebih kompetitif dibanding perebutan kursi capres.
“Pak Prabowo ini tinggal satu periode lagi, 2034 pasti selesai, dia harus pintar-pintar milih wapres. Nah kalau intuisi politik saya, dia enggak bisa milih yang beda partai politik,” ujar Hensa dalam podcast YouTube Newlitics & Helmy Yahya Bicara, seperti dikutip pada Senin (6/4/2026).
Nama Teddy Indra Wijaya muncul sebagai salah satu figur yang mulai dilirik publik. Selain menduduki posisi strategis di lingkaran kekuasaan, intensitas kemunculannya di ruang publik turut memperkuat citranya.
“Letkol Teddy juga digadang-gadang, banyak netizen yang menyebut dia sebagai calon potensial mendampingi Prabowo,” jelas Hensa.
Sementara itu, Dedi Mulyadi dinilai memiliki kekuatan berbeda. Basis dukungan yang kuat, khususnya di Jawa Barat, menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan. Namun, Hensa menilai peluang tersebut tetap bergantung pada kesiapan partai dalam membuka ruang lebih luas.
“KDM-nya sendiri tidak masalah menurut saya. Tapi apakah Gerindra sudah siap menjadi partai terbuka? Itu pertanyaannya. Karena masih ada nama-nama dari lingkaran keluarga yang juga digadang-gadang,” terangnya.
Menurutnya, skenario paling ideal bagi Dedi adalah tetap berada di posisi wakil, mendampingi Prabowo sebagai calon presiden.
“Paling ideal. Karena Gerindra tidak kehilangan apa-apa kalau KDM maju, karena ini kadernya dia juga. Belum lagi KDM itu disukai, dicintai masyarakat Jawa Barat yang basis pemilihnya sangat besar,” kata Hensa.
Meski demikian, jalan Dedi menuju posisi puncak dinilai tidak mudah. Faktor historis turut menjadi pertimbangan, mengingat belum banyak presiden Indonesia yang berasal dari latar belakang Sunda melalui jalur pemilihan langsung.
“Tapi dengan kekuatannya KDM hari ini, menurut saya dia layak diperhitungkan oleh Pak Prabowo, apalagi kalau memang Prabowo ingin membesarkan Gerindra di 2029,” katanya.
Di antara semua nama, Gibran Rakabuming Raka masih dinilai sebagai kandidat paling kuat untuk posisi wakil presiden.
“Masih Gibran. Yang kedua saya menjagoin KDM, karena dari sisi partai politiknya pun masuk,” ujarnya.
Namun, Hensa memberikan catatan penting terkait kemungkinan duet Prabowo-Gibran kembali di 2029. Ia menilai, secara politik, skenario tersebut bukan lagi pilihan paling ideal.
Menurutnya, kehadiran Gibran sejak Pilpres 2024 merupakan bagian dari strategi besar untuk mempersiapkannya sebagai calon presiden di masa depan. Jika kembali ditempatkan sebagai wakil, langkah tersebut justru berpotensi memperlambat laju politiknya.
“Kalau Prabowo bersama Gibran lagi di 2029, itu artinya Prabowo membesarkan Gibran. Memang mempersiapkan Gibran sebagai calon presiden,” kata Hensa.
Ia menegaskan, target utama yang sejak awal dirancang adalah menjadikan Gibran sebagai pemimpin nomor satu, bukan sekadar pendamping.
“Prabowo kemungkinan tidak butuh Jokowi lagi untuk menang di 2029 karena dia adalah incumbent. Dia akan memilih cawapres yang tidak punya ambisi mengganggu posisinya dan elektabilitas Gerindra,” tambah Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Dengan dinamika ini, satu hal menjadi jelas: jalan menuju 2029 bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi juga siapa yang berdiri di sisi kanan kekuasaan. (her)








