INDOPOSCO.ID – Di balik kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan kader posyandu, Dewi Murni (42) menyimpan kegelisahan yang sama seperti banyak perempuan di Desa Rimba Beringin, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Keinginan membantu ekonomi keluarga kerap terbentur keterbatasan modal dan waktu.
Kegelisahan itu kini berubah menjadi kebanggaan. Bersama sembilan perempuan lainnya, Dewi menjadi motor penggerak Kelompok SEROJA dalam program budi daya jamur tiram yang digagas melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Perempuan dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Sebelum program ini hadir, Dewi yang berjualan kue rumahan dengan penghasilan tak menentu, kerap ragu memulai usaha baru. Kekhawatiran akan kebutuhan modal besar dan risiko kegagalan membuatnya memilih bertahan dalam keterbatasan.
“Dulu saya takut membuka usaha karena berpikir harus punya modal besar. Saya juga khawatir usaha tidak berkembang,” ungkapnya.
Melalui program pengembangan usah mikro kecil dan menengah (UMKM) perempuan ini, Kelompok SEROJA tidak hanya menerima bantuan baglog jamur, tetapi juga pendampingan intensif. Para anggota dibekali pengetahuan teknis, mulai dari pengaturan kelembapan kumbung, pengendalian hama, hingga manajemen kelompok yang profesional.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Dewi memimpin anggotanya disiplin mencatat kelembapan setiap hari dan memahami siklus hidup jamur secara detail. Sistem piket diterapkan untuk memastikan perawatan berjalan konsisten.
“Ibu-ibu sekarang sudah tahu cara merawat dan mengantisipasi hama. Jadi tidak asal jalan saja,” jelasnya.
Kini, budi daya jamur tiram telah menjadi sumber pendapatan baru bagi 10 anggota Kelompok SEROJA. Namun bagi Dewi, perubahan terbesar bukan hanya pada penghasilan, melainkan pada mentalitas. Para ibu yang sebelumnya fokus pada urusan domestik, kini lebih percaya diri berdiskusi, mengambil keputusan, dan memiliki visi besar menjadikan Desa Rimba Beringin sebagai sentra jamur tiram.
Program ini merupakan bagian dari strategi pemberdayaan usah mikro kecil dan menengah (UMKM) perempuan di wilayah Ring-1 PHR Zona Rokan yang dirancang untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat keberlanjutan operasional perusahaan melalui pendekatan Social License to Operate (SLO).
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan fokus utama program ini bukan sekadar bantuan modal, melainkan penguatan kapasitas dan kepercayaan diri.
“Tantangan terbesar pelaku usaha mikro, terutama kelompok perempuan, bukan hanya modal, melainkan kepercayaan diri dan akses terhadap ilmu pengetahuan. Kelompok SEROJA membuktikan bahwa pemberdayaan yang tepat sasaran mampu menciptakan kemandirian,” ujarnya, dikutip Selasa (31/3/2026).
Komitmen PHR untuk tumbuh bersama masyarakat di wilayah operasi diharapkan dapat menular ke desa-desa lain. Semangat Kelompok SEROJA menjadi bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat, potensi lokal dapat menjelma menjadi motor penggerak ekonomi desa. (srv)










