• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Babak Baru Jakarta: Ketika Budaya Betawi Dihitung sebagai Aset

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 30 Maret 2026 - 11:35
in Megapolitan
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: H. Amink Amirullah, Entrepreneur Muda Betawi, Kaukus Muda Betawi, Santri Entrepreneur

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Makna peribahasa ini adalah kita harus menghormati adat istiadat tempat di mana kita berada.

BacaJuga:

Peringatan Dini BMKG, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Akhir Pekan Ini

Penggerebekan Kampung Boncos: 3 Orang Ditangkap, Sajam dan Sabu Disita

5 Siswa SMK Strada 1 Rampungkan Magang Empat Bulan di BumiMas Permata Group

Kami, entrepreneur muda Betawi, sudah terlalu lama jadi properti acara. Dipanggil saat festival, disuruh pakai baju adat, memasak kerak telor, menampilkan silat. Setelah tepuk tangan selesai, panggung dibongkar, dan kami pulang ke kontrakan dengan gerobak yang sama, modal yang sama, dan sewa kios yang makin tidak masuk akal. Kami ada, tapi tidak dihitung. Laku sebagai simbol, bukan sebagai ekosistem.

Karena itu, ketika Gubernur Jakarta Pramono Anung menggagas Halal Bihalal Akbar di Lapangan Banteng dan menyiapkan Peraturan Gubernur tentang Lembaga Adat Masyarakat Betawi, pertanyaan kami sederhana: ini panggung baru atau meja baru?

Jawabannya tergantung apakah Jakarta berani membaca budaya bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai ekonomi.

Budaya adalah aset

Teori ekonomi budaya mengajarkan satu hal: nilai ekonomi tidak hanya lahir dari barang, tapi dari makna. Kopi Vietnam bisa lebih mahal dari kopi lokal karena ada cerita dan cara seduh. Batik tulis harganya jutaan karena ada filosofi di motifnya.

Betawi punya semua itu. Silat punya filosofi elmu padi (merunduk). Kuliner kami punya asal-usul: gabus pucung dari rawa, bir pletok dari rempah penghangat. Adab kami memuliakan tamu, menjaga tutur adalah nilai jual di kota yang serba transaksional.

Masalahnya, nilai itu tidak pernah dikelola. Kami menjual produk, tapi tidak menjual cerita. Akibatnya kami kalah oleh modal besar yang ceritanya kosong. Kami kuat di bonding (ikatan sesama Betawi), tapi lemah di bridging-akses ke pembeli baru, investor, dan jaringan kota.

Lapangan Banteng, jika dibuka rutin, adalah etalase gratis. Di sana orang tidak hanya membeli kerak telor, tapi membeli pengalaman: melihat proses, mendengar pantun, berinteraksi. Di situlah lahir nilai tambah yang membuat harga naik tanpa perang banting harga. Itulah bridging yang kami butuhkan.

Blueprint bisnis budaya

Empat amanat Undang-Undang (UU) Pemajuan Kebudayaan-perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, pembinaan-adalah blueprint bisnis jika dijalankan serius. Kami perlu dilatih branding dan storytelling, karena dalam ekonomi budaya, kemasan dan cerita adalah separuh harga. Produk kami harus masuk katalog pemerintah daerah, event Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan hotel sehingga punya pasar tetap. Perlu juga inkubator yang memahami karakter Betawi, bukan konsultan yang menyuruh ganti nama agar “kekinian”.

Dunia sudah membuktikan ini berhasil. Jepang melindungi iemoto (pewaris seni tradisional) dan menjadikannya industri bernilai miliaran yen. Italia mengelola keju Parmigiano Reggiano dan fashion Milan sebagai merek global yang dijaga kualitas dan ceritanya.

Prancis menjadikan anggur Bordeaux dan roti baguette bukan sekadar makanan, tapi warisan yang dilindungi hukum dan dipasarkan ke seluruh dunia. Meksiko mengangkat taco dan tequila dari jajanan jalanan menjadi industri ekspor dengan standar dan cerita asal daerah.

Korea Selatan menjadikan kimchi dan K-pop sebagai kekuatan ekonomi budaya yang menembus pasar global. Di Indonesia sendiri contohnya nyata: Bali mengelola tari kecak dan subak bukan hanya untuk foto turis, tapi sebagai ekosistem ekonomi yang menghidupi seniman, petani, dan pengusaha lokal.

Yogyakarta menjadikan batik dan keraton sebagai magnet ekonomi kreatif, dari workshop membatik sampai hotel butik. Solo mengangkat batik Laweyan dan kuliner Pasar Gede menjadi destinasi, bukan sekadar jualan kaki lima. Kami memiliki bahan yang sama—silat, lenong, kuliner. Yang belum ada adalah manajernya.

Adab Betawi adalah trust

Kami sering dituding sulit maju karena terlalu beradab. Justru sebaliknya, adab kami adalah keunggulan kompetitif. Dalam ekonomi budaya, yang dijual bukan hanya barang, melainkan kepercayaan. Kami bisa bernegosiasi keras tanpa menyakiti, bersaing tanpa menjatuhkan. Itu brand equity. Hanya saja, selama ini tidak ada pasarnya.

Namun semua ini bisa kandas menjadi wacana jika dua hal tidak terjadi. Pertama, Lapangan Banteng tidak boleh berhenti sebagai acara tahunan. Harus ada pasar Betawi mingguan dan kurasi bulanan agar terjadi perputaran ekonomi. Kedua, Lembaga Adat harus melahirkan unit bisnis yang mengurus IP, lisensi, dan pemasaran, bukan hanya struktur pengurus.

Kami tidak meminta dimanja. Kami meminta budaya kami dihitung sebagai aset. Karena selama ini kami bertanding dengan kaki terikat: modal cekak, izin berbelit, sewa mencekik, jaringan nihil.

Lutfi Hakim, dalam wasiat yang disampaikan pendiri KH. Fadholi El-Muhir, pernah berkata: “Keadilan atas kaum Betawi bisa dikalahkan, tetapi tak bisa ditiadakan… suatu saat akan bangkit.”

Bangkit bukan teriakan di panggung. Bangkit adalah ketika ekonomi budaya Betawi berjalan: ketika anak Betawi bisa membuka outlet di Tanah Abang tanpa harus mengontrak di Bekasi, ketika brand kami masuk mal tanpa mengganti nama, ketika kami diundang rapat bukan untuk mengisi acara 15 menit, melainkan untuk presentasi dan pulang membawa kerja sama.

Halal Bihalal di Lapangan Banteng boleh jadi pembuka. Babak baru sesungguhnya dimulai pada hari ketika budaya Betawi berhenti menjadi hiasan, mulai dihitung sebagai aset, dan kami, entrepreneur muda Betawi, akhirnya duduk di meja sebagai pemain pembangunan ekonomi budaya.

Dalam istilah santri, masyarakat Betawi bukan “Mudhaf”, tetapi harus menjadi “Mudhaf Ilaih”: pemilik dari budaya Betawi sekaligus pelaku dari pemajuan dan pengembangannya.*

Tags: Amirullahbudaya betawiHalal Bihalalkaukus muda betawiKebudayaan BetawiLapangan BantengLebaran Betawi

Berita Terkait.

Perkuat Layanan Wholesale Banking, BRI Luncurkan Qlola Mobile
Megapolitan

Peringatan Dini BMKG, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Akhir Pekan Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:35
boncos
Megapolitan

Penggerebekan Kampung Boncos: 3 Orang Ditangkap, Sajam dan Sabu Disita

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:06
strada
Megapolitan

5 Siswa SMK Strada 1 Rampungkan Magang Empat Bulan di BumiMas Permata Group

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:04
Heboh ‘Mahasiswa’ Gadungan di Acara Sumpah Pemuda, Mabes Polri Bilang Begini
Megapolitan

Heboh ‘Mahasiswa’ Gadungan di Acara Sumpah Pemuda, Mabes Polri Bilang Begini

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:15
Minerba Convex 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Industri Tambang
Megapolitan

Normalisasi Kali Mampang Dikebut, Pramono Yakin Banjir Jakarta Berkurang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14
Cenderung Teduh, Waspadai Potensi Hujan di Sebagian Wilayah Jakarta Hari Ini
Megapolitan

Cenderung Teduh, Waspadai Potensi Hujan di Sebagian Wilayah Jakarta Hari Ini

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:53

OLAHRAGA

Arisan Elqueen Berujung Buntung, 24 Warga Lebak-Pandeglang Tertipu Rp1,34 Miliar
Olahraga

Hadapi Duel Papan Atas, Stjepan Loncar Pastikan Persija Siap Tempur

Editor Nasuha
Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:13

INDOPOSCO.ID - Gelandang Persija Jakarta Stjepan Loncar mengingatkan timnya untuk mewaspadai tren positif Dewa United menjelang laga pekan kedelapan Super...

SelengkapnyaDetails
Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:39
Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57
catur

Borong 17 Medali, Percasi DKI Jakarta Kembali Rajai Kejurnas Catur 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:43

BERITA POPULER

  • Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan

    Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5157 shares
    Share 2063 Tweet 1289
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1152 shares
    Share 461 Tweet 288
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1004 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon

    1267 shares
    Share 507 Tweet 317
  • Lahan Perhutanan Sosial Seluas 638 Hektar di Humbang Hasundutan Resmi Dikelola Kelompok Tani

    989 shares
    Share 396 Tweet 247
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.