INDOPOSCO.ID – Di tengah sorotan publik terhadap gaya komunikasi pejabat, pengamat politik Hendri Satrio menilai bahwa kedekatan dengan masyarakat seharusnya menjadi prioritas, meskipun langkah tersebut kerap berujung pada tudingan pencitraan.
Pria yang akrab disapa Hensa itu melihat, label pencitraan tidak seharusnya menjadi penghalang selama aksi yang dilakukan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.
“Tidak ada salahnya seperti itu, kalau memang bagus dan bermanfaat buat rakyat ya dituduh melakukan pencitraan juga tidak apa-apa,” kata Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Rabu (18/3/2026).
Menurutnya, publik justru lebih menantikan aksi nyata yang terasa langsung ketimbang sekadar retorika yang terkesan berjarak. Salah satu contoh yang ia soroti adalah momen yang melibatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Saat itu, Teddy terlihat membagikan bantuan Hari Raya Idulfitri kepada para pengemudi ojek online di kawasan Stasiun Pasar Senen, bertepatan dengan agenda pelepasan program mudik gratis.
Bagi Hensa, momen seperti ini memiliki nilai lebih di mata masyarakat.
“Pejabat atau menteri lain bila ingin mencontoh juga tidak apa-apa, daripada hanya sekedar ngomong dan debat ke rakyat kan enggak level, mending dekat dengan rakyat seperti Teddy ini,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kondisi komunikasi pemerintahan saat ini di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang dinilai sedang menghadapi tantangan serius.
Menurutnya, banyak pejabat yang masih terkesan elitis dan belum mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
“Bahkan satu waktu saya melihat ada satu pejabat yang ketika ditanya oleh rakyat malah diminta belajar, ini bukan suatu jawaban yang diinginkan sebelumnya,” tutur Hensa.
Di tengah situasi tersebut, Hensa menilai masyarakat kini lebih membutuhkan respons yang hangat, sederhana, dan membumi dari para pemangku kebijakan.
“Makin jarang sih pejabat yang tertangkap bagi rejeki spontan, kalaupun ada biasanya setingan, walaupun setingan juga gak apa, asal berdampak,” tegas penulis buku Riah Riuh Komunikasi itu.
Ia menambahkan, momentum interaksi langsung seperti ini bukan hanya soal citra, tetapi juga peluang penting bagi pejabat untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat.
“Saat ini, kondisinya berjarak, dan momen-momen kedekatan dengan masyarakat itu lebih dibutuhkan yang lagipula itu bisa dimanfaatkan untuk mendengar aspirasi mereka,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Hensa mengingatkan agar para pejabat lebih bijak dalam merespons suara publik, terutama di tengah sensitivitas masyarakat yang semakin tinggi terhadap sikap elitis.
“Masyarakat itu saat ini sensitif dengan respon-respon elitis semacam itu, kondisi saat ini membutuhkan pejabat yang hadir untuk masyarakat meski memang berpotensi dicap pencitraan, tapi memang rakyat butuh bantuan,” tambahnya. (her)








