INDOPOSCO.ID – Perkembangan teknologi informasi tidak lagi sekadar menghadirkan perangkat baru atau inovasi digital yang bersifat teknis. Lebih dari itu, perubahan yang terjadi saat ini telah menggeser cara dunia memproduksi, mendistribusikan, hingga mengonsumsi informasi. Di tengah transformasi tersebut, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memainkan peran penting dalam lanskap media modern.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai kehadiran AI kini telah melampaui tahap eksperimen. Teknologi tersebut bahkan mulai menjadi pintu baru bagi masyarakat dalam memahami berbagai peristiwa dan isu yang terjadi di sekitar mereka.
“Jadi AI sudah mengambil peran yang sebelumnya menjadi fungsi utama media, membantu masyarakat mencari informasi, merangkum peristiwa, menjelaskan isu-isu yang kompleks. Dengan kata lain, AI mulai menjadi gerbang baru bagi publik untuk memahami dunia,” ujar Hetifah dalam diskusi Smart Journalism bertema “Integritas Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan awak media di Jakarta, Minggu (15/3/2026).
Menurutnya, kemajuan AI memang menghadirkan kemampuan luar biasa dalam mengolah data dan mempercepat akses informasi. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa tantangan serius bagi dunia jurnalistik, terutama terkait potensi penyebaran disinformasi dan manipulasi konten yang makin mudah dilakukan.
Hetifah mengingatkan percepatan teknologi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan pijakan terhadap sumber informasi yang kredibel.
“Dengan teknologi AI, dunia jurnalisme memang akan menghadapi perubahan besar. Tetapi yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan munculnya disinformasi ketika teknologi ini tidak digunakan secara bertanggung jawab,” jelasnya.
Meski demikian, Hetifah menerangkan kehadiran AI seharusnya dipahami sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti jurnalis. Teknologi dapat mempercepat proses kerja di ruang redaksi, tetapi tidak dapat menggantikan pertimbangan etika, empati, serta intuisi manusia dalam menentukan nilai sebuah berita.
“Satu hal yang perlu ditegaskan: AI hadir di ruang redaksi bukan untuk menggantikan peran jurnalis manusia. AI adalah co-pilot. Ia bisa mempercepat proses kerja, membantu verifikasi, dan mengolah data. Namun keputusan editorial, penilaian etika, serta nurani harus tetap berada di tangan manusia,” tegasnya.
Dalam pandangannya, masa depan jurnalisme tidak terletak pada pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan pada bagaimana keduanya dapat bekerja berdampingan. Ketika teknologi dimanfaatkan secara bijak, AI justru dapat memperkuat kualitas pemberitaan dan memperkaya proses riset jurnalistik.
Pada akhirnya, di tengah derasnya arus otomatisasi dan algoritma, jurnalisme tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diprogram oleh mesin: kepekaan, tanggung jawab publik, dan keberanian untuk menjaga kebenaran. (her)









