INDOPOSCO.ID – PT PLN (Persero) memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tetap aman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H. Untuk memastikan kesiapan tersebut, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary, melakukan kunjungan langsung ke dua pembangkit besar di Jawa Tengah guna memantau kondisi operasional dan stok energi primer.
Rizal mengatakan PLN akan mendapatkan pasokan batu bara sekitar 82 hingga 84 juta metrik ton dari delapan pemasok utama. Pasokan tersebut akan disalurkan ke berbagai PLTU di Indonesia guna menjaga keandalan pasokan listrik nasional, terutama selama periode kebutuhan listrik yang meningkat menjelang Lebaran.
“Hari ini saya mengunjungi dua PLTU besar di Jawa Tengah, yakni PLTU Tanjung Jati B dan PLTU Batang,” ujar Rizal saat melakukan kunjungan kerja di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2026).
PLTU Tanjung Jati B memiliki kapasitas pembangkit sebesar 4×660 megawatt (MW), sementara PLTU Batang memiliki kapasitas 2×1000 MW. Kedua pembangkit tersebut merupakan tulang punggung pasokan listrik di sistem Jawa-Bali.
Menurut Rizal, saat ini hari operasi (HOP) batu bara di kedua PLTU tersebut sudah berada di atas 10 hari operasi. Dengan tambahan pasokan dari para pemasok utama dalam waktu dekat, tingkat HOP diproyeksikan meningkat signifikan sehingga operasional pembangkit dapat berjalan lebih aman dan stabil.
Sebelumnya, PLN telah memastikan pasokan batu bara dari delapan perusahaan tambang besar, yakni Adaro Indonesia, Arutmin Indonesia, Berau Coal, Kaltim Prima Coal, Kideko Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Indominco Mandiri, serta Bukit Asam. Pasokan ini diprioritaskan untuk pembangkit yang sempat mengalami potensi defisit stok di awal tahun.
Rizal menegaskan, ketersediaan batu bara yang disiapkan PLN diperkirakan mampu menjaga hari operasi pembangkit hingga akhir Agustus 2026. Dengan kondisi tersebut, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pemadaman listrik.
“Ketersediaan batu bara saat ini sudah sangat memadai, sehingga tidak ada potensi blackout atau pemadaman listrik,” ujarnya.
Meski demikian, PLN masih membutuhkan tambahan sekitar 40 juta ton batu bara hingga akhir 2026 untuk menjaga keberlanjutan operasional seluruh pembangkit. Kebutuhan tersebut merupakan bagian dari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) batu bara yang dialokasikan untuk PLN sepanjang tahun ini.
Rizal menambahkan, potensi gangguan pasokan batu bara sempat terjadi pada awal tahun akibat cuaca yang kurang bersahabat serta sejumlah pemasok yang menunggu kepastian regulasi dari pemerintah. Namun, dengan koordinasi intensif antara PLN, pemasok, dan pemerintah, pasokan energi primer untuk pembangkit kini kembali terjaga. (rmn)










