INDOPOSCO.ID – Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggelar PYC Talks Volume 1 dengan tema “Diseminasi Studi: Analisis Rantai Pasok Biodiesel” pada Rabu (25/2/2026). Forum ini menjadi ajang pemaparan hasil kajian mengenai kesiapan rantai pasok biodiesel nasional dalam mendukung target bauran energi.
Ketua Umum PYC, Filda C. Yusgiantoro, menyampaikan bahwa biodiesel merupakan instrumen strategis untuk menekan ketergantungan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada dukungan regulasi dan koordinasi lintas sektor.
Menurutnya, tantangan utama rantai pasok biodiesel mencakup produktivitas lahan kelapa sawit, alokasi crude palm oil (CPO), hingga kesiapan infrastruktur distribusi dari hulu ke hilir.
Dalam pidato kunci, Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Edi Wibowo, menegaskan bahwa program mandatori biodiesel menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional berbasis bahan bakar nabati. Ia mengingatkan tingginya kebutuhan CPO untuk sektor pangan dan ekspor juga harus menjadi pertimbangan dalam kebijakan ini.
Pada sesi panel, PYC bersama Institute for Research on Energy and Environment Management (IREEM) memaparkan hasil studi berbasis pendekatan system dynamics untuk memproyeksikan kemampuan rantai pasok biodiesel.
Research Coordinator PYC, Massita Ayu Cindy, menjelaskan bahwa kebijakan mandatori B40 direkomendasikan tetap menjadi skenario dasar (baseline). Berdasarkan hasil pemodelan, pada skenario B40 rasio pasokan dan permintaan biodiesel diperkirakan turun di bawah 100 persen sekitar tahun 2042.
Sebaliknya, peningkatan campuran ke B50 hingga B90 dinilai berpotensi mempercepat tekanan terhadap sistem, bahkan membuka kemungkinan defisit pasokan sejak 2030.
Diskusi turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Pertanian, LEMIGAS, APKASINDO, serta GAIKINDO.
Perwakilan Kementerian Pertanian menekankan pentingnya pembenahan tata kelola sektor hulu sawit sebagai fondasi keberlanjutan program biodiesel. Sementara itu, APKASINDO menyoroti aspek produksi, LEMIGAS memaparkan uji teknis kompatibilitas mesin, dan GAIKINDO mengapresiasi inovasi industri biodiesel nasional yang dinilai semakin kompetitif di pasar global.
Kegiatan ini dihadiri oleh 85 peserta dari unsur pemerintah, industri, asosiasi, dan NGO, serta ditutup dengan diskusi interaktif. PYC menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kebijakan energi berkelanjutan berbasis kajian ilmiah dan sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. (eva)





















