INDOPOSCO.ID – Kementerian Koperasi (Kemenkop) mendorong koperasi di Provinsi Banten untuk naik kelas melalui penguatan ekosistem bisnis, pengolahan produk bernilai tambah, serta perluasan akses pasar.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, saat membuka kegiatan Unlocking Market Access and Cooperatives Ecosystem di Kota Serang, Banten, Selasa (24/2/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai kegiatan terpadu yang menggabungkan penguatan kesiapan operasional koperasi dengan fasilitasi forum temu usaha antara koperasi dan mitra pasar.
Destry menilai Banten memiliki potensi besar, terutama komoditas kelapa yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
“Banten ini punya potensi kelapa. Kelapa itu bukan cuma satu atau dua produknya, dari sabut, batok, air, daging, dan lain sebagainya, itu bisa diproduksi dan mendapatkan nilai tambah,” ujar Destry.
Ia menjelaskan, pengembangan produk seperti gula semut tidak boleh berhenti pada satu komoditas saja, tetapi harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem industri yang lebih luas. Budidaya tanaman juga perlu diperkuat agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
“Kalau kita bicara gula semut, sebenarnya tidak cuma gula semut produknya, ada banyak yang bisa. Dan tanaman itu harus dibudidayakan supaya bisa memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Destry mendorong koperasi di Banten memanfaatkan peluang kerja sama dengan Holding BUMN Pangan ID Food sebagai jalur distribusi produk.
“ID Food itu bukan untuk jualan produknya, tapi untuk mengisi produk ID Food. Koperasi-koperasi di Banten harus memanfaatkan itu. Potensinya sangat besar,” ucap Destry.
Destry menekankan pentingnya konsistensi produksi untuk menjaga kepercayaan pasar. “Harus konsisten, enggak boleh angot-angotan. Kalau ekosistem terganggu dan produk tidak sesuai permintaan, itu akan merusak pasar sampai ke negara,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah berperan sebagai support system bagi koperasi, namun koperasi harus memiliki model bisnis yang jelas dan tidak hanya bergantung pada bantuan.
“Jangan minta bantuan mulu tapi enggak tahu mau ngapain. Dikasih modal buat apa? Pemerintah sudah banyak memberi bantuan, tapi sayang tidak dianggap sebagai anugerah yang harus dikelola dengan baik,” kata Destry.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan fasilitas usaha yang dibangun pemerintah, termasuk gerai koperasi, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
“Kalau sudah dibangunkan dengan uang rakyat, berarti harus dimanfaatkan semaksimal mungkin (gerai koperasi) dengan membuat bisnis yang berjalan,” tambahnya.
Dengan penguatan ekosistem bisnis, inovasi produk bernilai tambah, serta perluasan akses pasar, koperasi di Banten diharapkan mampu naik kelas, mandiri, dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang berdaya saing tinggi. (her)










