INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menegaskan, bahwa pelestarian sejarah tidak boleh lagi hanya berhenti pada tumpukan dokumen administratif, melainkan harus dihidupkan menjadi kekuatan ekonomi dan identitas bangsa yang nyata.
Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) ini menyoroti fenomena era digital yang menuntut segala sesuatu untuk tampil ke permukaan, agar mendapatkan perhatian dan dukungan kebijakan yang layak.
“Narasi sejarah yang kuat tanpa dukungan publikasi yang luas akan sulit berkembang dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat luas,” kata Fikri melalui gawai, Kamis (12/2/2026).
Fikri menekankan, pentingnya memviralkan potensi daerah sebagai strategi utama dalam menarik perhatian publik dan pengambil kebijakan. Menurutnya, jika potensi besar Banyuwangi tidak dimediakan secara gencar, maka dukungan keadilan anggaran dan program akan sulit didapatkan.
Ia menegaskan, bahwa semua orang harus tahu Banyuwangi adalah pusat cagar budaya yang luar biasa. “Banyuwangi menyimpan serangkaian situs vital yang menjadi kepingan penting dari narasi sejarah Nusantara, mulai dari jejak Kerajaan Blambangan hingga situs Kampung Inggris yang memiliki nilai strategis,” kata Fikri.
Fikri menyayangkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal secara mendalam kekayaan sejarah tersebut.
Ia menegaskan bahwa situs-situs yang membentang dari masa prasejarah hingga era kerajaan ini bukan sekadar warisan lokal semata, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas nasional yang harus dijaga bersama.
Lebih jauh, legislator ini menyoroti perlunya keterlibatan aktif dunia usaha dalam menyulap cagar budaya menjadi destinasi wisata yang berbasis riset dan edukasi.
Ia mengambil contoh keberhasilan negara lain seperti Turki, di mana pengusaha dan pemerintah berjalan berdampingan dalam mengembangkan situs sejarah sehingga mampu mendatangkan devisa sekaligus merawat memori kolektif bangsa.
Fikri mengingatkan, bahwa tanpa sentuhan bisnis, situs sejarah sulit berkembang. Dan tanpa landasan riset dan regulasi yang kuat, pengembangannya pun tidak akan berkelanjutan.
Ia mendorong terbentuknya sinergi sistematis yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media (pentahelix). Promosi yang gencar harus dibarengi dengan publikasi ilmiah yang valid serta payung hukum yang jelas.
“Jika dikelola secara serius dan kolaboratif, cagar budaya Banyuwangi yang memiliki nilai ilmiah, ekonomi, dan kebangsaan ini akan segera mendapatkan pengakuan yang layak di panggung dunia,” ujarnya. (nas)









