INDOPOSCO.ID – Literasi finansial kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar kemampuan memahami instrumen investasi. Ia telah menjelma menjadi fondasi ketahanan keluarga, komunitas, hingga negara dalam menghadapi tantangan ekonomi lintas generasi.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Edukasi Finansial bertema “Gold As Legacy: Preserving Wealth For Future Generation” di Jakarta, akhir pekan kemarin.
Dalam paparannya, Rini menekankan bahwa pengelolaan kekayaan harus ditempatkan dalam perspektif jangka panjang. Bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi sebagai warisan nilai bagi generasi berikutnya.
Penguatan literasi keuangan, menurutnya, juga harus menyasar perempuan sebagai aktor utama dalam ekosistem ekonomi keluarga dan sosial.
“Perempuan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan ekonomi, penggerak kepemimpinan ekonomi keluarga dan komunitas, serta agen literasi keuangan,” jelas Rini.
Ia menegaskan bahwa perempuan berada di posisi sentral dalam pengambilan keputusan finansial rumah tangga, mulai dari pengeluaran hingga tabungan. Peran tersebut menjadikan perempuan sebagai pendidik keuangan pertama bagi anak-anak.
“Ini tentunya, seorang ibu akan menjadi pendidik yang mempengaruhi perilaku keuangan lintas generasi terutama bagi anak,” ujarnya.
Lebih jauh, Rini mengaitkan literasi keuangan dengan reformasi birokrasi. Menurutnya, aparatur negara yang memahami pengelolaan keuangan secara baik akan lebih adaptif, berintegritas, dan kompetitif dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
Dalam perspektif kepemimpinan, ia menekankan bahwa warisan sejati tidak hanya berupa aset material, tetapi juga nilai dan kebijaksanaan yang bertahan melampaui waktu.
“Kita meyakini bahwa kekayaan sejati bukan hanya pada apa yang dimiliki, tetapi pada nilai yang diwariskan. True legacy is not wealth alone, but wisdom that endures across generations,” tuturnya.
Rini juga menyoroti pentingnya kepemimpinan visioner dan inklusif sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang tangguh. Menurutnya, setiap keputusan strategis memiliki dampak jangka panjang terhadap kepercayaan publik dan masa depan organisasi.
“Perlu kita sadari bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan warisan kepemimpinan ke depan. Karena sejatinya tidak semua keputusan meninggalkan angka, tetapi sebagian justru meninggalkan jejak nilai yang membentuk arah dan kepercayaan jangka panjang,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa konsistensi menjaga nilai menjadi kunci ketahanan organisasi lintas generasi, terutama di tengah dinamika perubahan kepemimpinan dan tantangan global yang terus berkembang.
Dalam konteks kepemimpinan, Rini menegaskan bahwa kualitas pemimpin diukur dari dampak keputusan, bukan sekadar kecepatan bertindak.
“Pada akhirnya seperti emas, nilai kepemimpinan diuji oleh waktu. Bukan oleh momen. Semakin tepat keputusan yang diambil, semakin berharga warisan yang ditinggalkan dari waktu ke waktu,” jelas Rini.
Melalui kegiatan edukasi finansial tersebut, Rini mengajak masyarakat untuk membangun budaya perencanaan keuangan yang transparan dan berorientasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa investasi bukan hanya soal keuntungan, tetapi strategi menjaga stabilitas nilai dan kesejahteraan generasi berikutnya.
“Sejalan dengan pepatah hemat pangkal kaya, perencanaan yang matang adalah kunci ketahanan masa depan, dan the best investment is the one that secures the next generation,” tambahnya. (her)




















