INDOPOSCO.ID – Organisasi kepemudaan tidak hanya terpaku pada rutinitas kaderisasi internal saja. Tetapi harus aktif merangkul pemuda berprestasi di luar struktur organisasi, termasuk lulusan vokasi dan penyandang disabilitas.
Pernyataan tersebut diungkapkan Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Abdul Fikri Faqih dalam keterangan, Sabtu (7/2/2026). Ia menyoroti fenomena program OKP yang dinilainya terlalu seragam, yakni didominasi oleh latihan kepemimpinan.
Menurut Legislator Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, fenomena tersebut menimbulkan surplus calon pemimpin, namun minim pengikut atau kolaborator yang memiliki keahlian teknis spesifik.
“Saya menangkap hampir semua programnya adalah latihan kepemimpinan. Jadi ini (ingin) jadi pemimpin semua. Lalu ada yang dipimpin tidak ini, Pak?” tanya Fikri memberikan otokritik konstruktif.
Fikri memaparkan solusi konkret berupa simbiosis mutualisme antara aktivis organisasi dan inovator muda (inventor). Ia menilai, aktivis organisasi kepemudaan memiliki keunggulan kompetensi manajerial yang teruji karena terbiasa mengelola kegiatan dalam keterbatasan.
“Seperti di Jawa Tengah banyak pemuda memiliki gagasan brilian dan prestasi internasional. Contohnya sosok Arfian Fuadi dari Salatiga, seorang inventor yang karyanya diakui dunia hingga mengalahkan lulusan doktoral MIT, serta Jay Senjaya Mulia, pendiri ASEAN Youth Organization,” bebernya.
“Teman-teman organisasi itu rata-rata skill manajerialnya bagus dan teruji. Ini kalau bisa ditularkan kepada inovator muda yang mungkin tidak kuliah, hanya lulusan SMK, tapi berprestasi internasional. Mereka punya ide, karena ideas are your own only currency (ide adalah mata uang Anda),” sambung Fikri.
Selain inovator teknologi, Fikri juga menyoroti prestasi pemuda disabilitas yang sering luput dari radar organisasi kepemudaan.
Ia menyebutkan prestasi tim sepak bola amputasi yang kipernya berasal dari daerah pemilihannya di Jawa Tengah, yang telah berkompetisi hingga ke Turki.
“Kalau bisa mereka juga didekati. Paling tidak dijadikan inspirator. Ada imbal balik; organisasi mendapatkan inspirasi, sementara atlet atau inovator mendapatkan dukungan manajerial,” ungkapnya.
Fikri berharap pola kolaborasi ini dapat mempercepat terwujudnya Youth Mainstreaming (pengarusutamaan pemuda) di Indonesia. Ia membandingkan dengan Singapura yang telah berhasil menempatkan kaum muda profesional (Young Urban Professionals) sebagai wajah representasi negara.
“Harapan saya Youth Mainstreaming tidak hanya angan-angan. Kalau kita lihat Singapura, utusan negaranya tidak ada orang tua, anak muda semua. Di depan (memimpin) atas nama negara. Jawa Tengah punya potensi besar untuk itu,” ujarnya. (nas)









