INDOPOSCO.ID – Sedikitnya sembilan negara Timur Tengah, termasuk negara-negara Teluk, mendesak pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk tetap menyetujui perundingan dengan Iran yang direncanakan berlangsung di Oman, setelah Teheran meminta perubahan lokasi pertemuan.
Laporan Axios, Rabu (4/2/2026), menyebutkan bahwa perundingan yang dijadwalkan pada Jumat (6/2/2026) tersebut berisiko gagal. Namun, negara-negara Arab meminta Washington agar tidak membatalkan agenda tersebut demi menjaga stabilitas kawasan.
Meski menunjukkan sikap skeptis terhadap peluang keberhasilan perundingan, pemerintahan Trump akhirnya menyetujui pelaksanaan pertemuan itu sebagai bentuk penghormatan terhadap sekutu-sekutunya di Timur Tengah serta untuk membuka peluang penyelesaian secara diplomatik.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa campur tangan eksternal terhadap Iran berpotensi menimbulkan dampak serius bagi keamanan kawasan.
“Kami percaya bahwa intervensi eksternal terhadap negara tetangga kami, Iran, merupakan ancaman serius bagi seluruh kawasan. Jalan paling masuk akal untuk menyelesaikan persoalan ini, termasuk isu nuklir, adalah melalui diplomasi,” ujar Erdogan dalam pernyataan pers usai perundingan di Mesir, Rabu (4/2/2026).
Erdogan menambahkan bahwa Turki secara konsisten mendorong dialog dan pendekatan politik dalam menyelesaikan konflik, serta mengingatkan pentingnya menghindari langkah-langkah yang dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Sebelumnya, Axios melaporkan bahwa utusan khusus AS Steve Witkoff semula berencana bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Istanbul pada Jumat untuk membahas program nuklir Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Namun, menurut jurnalis Axios Barak Ravid yang mengutip sumber Arab, pemerintahan Trump telah menerima permintaan Iran untuk memindahkan lokasi perundingan ke luar Turki. Negosiasi tersebut kini diperkirakan akan digelar di Oman.
Di sisi lain, Witkoff diketahui telah tiba di Israel pada Selasa untuk menggelar pembicaraan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait situasi regional dan kebijakan AS terhadap Iran. (dil)




















