INDOPOSCO.ID – Pergantian kepemimpinan di Olympic Council of Asia (OCA) menandai langkah penting menuju konsolidasi kekuatan olahraga Asia. General Assembly OCA yang digelar di Tashkent, Uzbekistan, resmi menetapkan Sheikh Joaan bin Hamad bin Khalifa Al Thani dari Qatar sebagai Presiden OCA periode 2026–2028 melalui mekanisme aklamasi.
Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyambut positif keputusan tersebut. Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menilai terpilihnya Sheikh Joaan sebagai sinyal dimulainya fase baru bagi organisasi olahraga terbesar di Asia.
“Alhamdulillah, General Assembly OCA telah selesai dan secara aklamasi memilih Presiden OCA yang baru, Sheikh Joaan dari Qatar. Selamat kepada Sheikh Joaan bin Hamad bin Khalifa Al Thani. Ini akan membawa babak baru bagi Olympic Council of Asia,” ujar Okto dalam pernyataannya, pada Jumat (30/1/2026).
Pemilihan secara aklamasi ini merupakan hasil kesepakatan negara-negara anggota OCA demi menjaga kesinambungan kepemimpinan organisasi, seiring kondisi kesehatan Raja Randhir Singh, Presiden OCA sebelumnya, yang tidak memungkinkan untuk menjalankan tugas secara aktif.
Okto mengungkapkan bahwa dorongan untuk melakukan transisi kepemimpinan tersebut justru berawal dari Indonesia. Inisiatif itu secara resmi disampaikan dalam forum OCA di Kuwait pada Mei 2025, dengan mengacu pada OCA Constitution Article 16 tentang Executive Board, khususnya poin 16.5 yang mengatur mekanisme pengisian kekosongan jabatan Presiden OCA.
“Inisiatif untuk menyerukan pemilihan Presiden OCA yang baru datang dari Indonesia. Kami secara resmi mengajukan usulan ini dalam pertemuan OCA sebelumnya, karena kami meyakini bahwa kepastian kepemimpinan sangat penting bagi stabilitas dan pertumbuhan organisasi di masa depan. Transisi ini mencerminkan komitmen kami untuk memperkuat tata kelola dan persatuan di Asia,” tegas Okto.
Lebih jauh, Okto menilai Sheikh Joaan sebagai figur pemimpin muda dengan kapasitas dan pengalaman yang mumpuni di panggung olahraga internasional. Komitmen Qatar dalam menjadikan olahraga sebagai prioritas nasional diyakini akan membawa perspektif segar bagi penguatan peran Asia di kancah global.
“Asia adalah benua terbesar, dengan jumlah penduduk terbesar, sponsor terbesar, dan penyelenggaraan multi-event olahraga yang sangat beragam, mulai dari Asian Games, Asian Beach Games, Asian Indoor and Martial Arts Games, hingga Asian Winter Games. Dengan kepemimpinan yang tepat, seluruh potensi ini bisa dimonetisasi dan dikonsolidasikan menjadi kekuatan besar,” tegas Okto.
Ia berharap di bawah kepemimpinan Sheikh Joaan, Asia mampu tampil lebih solid, terkoordinasi, dan berpengaruh dalam peta olahraga dunia. Kedekatan hubungan antara NOC Indonesia dan NOC Qatar juga dinilai menjadi modal strategis dalam memperkuat sinergi di tingkat kawasan.
“Harapan kita, Asia sebagai kekuatan besar dapat semakin terunifikasi dan tampil lebih dominan di kancah olahraga dunia. Ini tentu juga akan membawa manfaat besar bagi Indonesia. Saya mengenal Sheikh Joaan sudah cukup lama. Hubungan NOC Indonesia dan NOC Qatar sangat erat, bahkan sering disebut sebagai satu suara dan satu kekuatan,” tutupnya.
Dengan kepemimpinan baru di OCA, Asia kini menatap masa depan olahraga dengan optimisme, mengubah potensi besar menjadi kekuatan nyata yang mampu berbicara lebih lantang di level dunia. (her)










