INDOPOSCO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan komitmen untuk memperkuat langkah antisipatif pascabencana Sumatra dengan pengoperasionalan alat operasi utama (Aloptama) seperti empat unit radar cuaca di wilayah terdampak.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam pernyataan diterima di Jakarta, Rabu (28/1/2026) memastikan komitmen BMKG untuk terus memperkuat antisipatif dan mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya dalam mendukung penanganan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Tugas kami adalah melakukan pengelolaan data tunggal dan terintegrasi terkait rehabilitasi dan rekonstruksi lintas kementerian, lembaga, dan daerah. Kami juga rutin setiap hari mengirimkan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika untuk mendukung Satgas ini, serta menugaskan tim untuk hadir langsung selama jam kerja di Satgas PRR yang berkantor di Kemendagri,” ujar Faisal.
Sebagai bagian dari dukungan pascabencana, BMKG mengoperasikan sekitar 10.800 Aloptama di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Sumatra yang terdampak bencana, BMKG mengandalkan empat unit radar cuaca yang berada di Bandara Sultan Iskandar Muda, Bandara Kualanamu, Nias, dan Padang.
BMKG sendiri terlibat aktif dalam Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana sebagaimana diamanatkan dalam Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026. BMKG tergabung sebagai anggota Bidang Pengelolaan Data yang dikoordinatori oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Selain radar cuaca, BMKG juga mengoperasikan sistem pendukung lainnya, seperti 16 unit Automatic Weather Observing System (AWOS), 11 unit Automatic Weather Station (AWS), serta 53 unit Automatic Rain Gauge (ARG) di wilayah Sumatra. Berbagai instrumen tersebut mendukung penyediaan informasi cuaca dan iklim mulai dari nowcasting 1–6 jam ke depan, prakiraan harian, tiga harian, mingguan, dasarian, bulanan, hingga enam bulanan.
Dalam rapat kerja dengan Komisi V di Jakarta, Selasa (27/1/2026), Faisal menambahkan bahwa BMKG terus meningkatkan diseminasi informasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat. Selain melalui grup WhatsApp dan komunikasi langsung dengan mitra di tingkat nasional maupun daerah, BMKG juga mengoperasikan layanan call center.
“Berbagai cara kami coba lakukan, dan saat ini sedang berlangsung proses untuk meningkatkan antarmuka (interface) BMKG dengan melibatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) agar dapat bersaing dengan platform cuaca global yang beredar luas,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Sumatra juga dilakukan. OMC dilaksanakan di empat provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Lampung.
Saat ini, OMC masih berlangsung di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan masing-masing satu pesawat, serta tingkat keberhasilan pengurangan curah hujan di atas 30 persen. (ney)









