INDOPOSCO.ID – Pakar hukum tata negara, Feri Amsari mengkritik cara sebagian pemimpin memaknai ketegasan dan kekuasaan. Menurutnya, ketegasan yang diharapkan publik bukan ditunjukkan melalui kemarahan di depan kamera atau pidato berapi-api, melainkan melalui kebijakan konkret yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
“Ketegasan itu bukan soal marah-marah di depan kamera atau pidato keras. Yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan nyata yang bisa dirasakan,” kata Feri dalam diskusi Survei KedaiKOPI bertajuk “Mencari Sosok Pemimpin Ideal Indonesia: Apa Kata Rakyat?” di Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Ia menilai pemimpin yang benar-benar tegas akan terlihat saat menghadapi krisis, terutama bencana alam. Dalam kondisi tersebut, pemimpin dituntut mampu mengambil keputusan cepat dan tepat, bukan sekadar membangun citra melalui pernyataan publik.
“Pemimpin yang tegas itu terlihat ketika ada krisis. Dia bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, bukan sibuk membangun citra,” tegasnya.
Feri juga menyinggung teori kekuasaan presiden dari ilmuwan politik Amerika Serikat, Richard Neustadt, yang menyebut kekuasaan terletak pada kemampuan mempersuasi. Namun, menurut Feri, persuasi tidak cukup hanya melalui pidato yang berulang-ulang tanpa disertai kebijakan nyata.
“Neustadt bilang kekuasaan presiden itu ada pada kemampuan mempersuasi. Tapi kalau yang dilakukan hanya pidato rutin tanpa kebijakan konkret, itu bukan persuasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, tingginya frekuensi pidato tidak otomatis membuat publik merasa tenang atau yakin terhadap kinerja pemerintah.
“Banyak bicara tidak sama dengan berhasil meyakinkan rakyat,” ujarnya.
Kritik juga diarahkan pada penggunaan metafora religius seperti “tongkat Nabi Musa” yang kerap disampaikan Presiden saat merespons lambannya penanganan bencana. Menurut Feri, ungkapan tersebut telah berulang kali disampaikan dalam berbagai kesempatan.
“Itu sudah diucapkan sejak peringatan Natal 2024, lalu saat bencana Aceh 2025, sampai rapat kabinet. Terus diulang,” kata Feri.
“Masalahnya bukan punya tongkat Nabi Musa atau tidak. Masalahnya ada keberanian atau tidak untuk mengambil kebijakan yang benar-benar dibutuhkan rakyat,” lanjutnya.
Ia menilai, rakyat tidak membutuhkan simbol atau metafora, melainkan solusi konkret atas persoalan sehari-hari.
“Rakyat tidak butuh metafora. Rakyat butuh solusi konkret,” tambahnya. (her)










