INDOPOSCO.ID – Pulau Greenland kian menjadi sorotan dalam percaturan geopolitik global. Selain menyandang status sebagai pulau terbesar di dunia, wilayah otonom Kerajaan Denmark itu dinilai memiliki nilai strategis tinggi bagi kepentingan pertahanan, ekonomi, dan keamanan Uni Eropa (UE) serta NATO.
Pengamat politik internasional Saiful Huda Ems menilai, posisi geografis Greenland yang berada di antara Eropa, Amerika Utara, dan kawasan Arktik menjadikannya titik kunci jalur militer dan pertahanan global. Sejak era Perang Dingin hingga saat ini, Greenland berperan penting sebagai penyangga keamanan Atlantik Utara.
“Greenland bukan sekadar wilayah geografis, melainkan kombinasi kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan global,” ujar Saiful Huda melalui gawai, Selasa (13/1/2026).
Greenland memiliki luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi dan dikelilingi perairan Arktik. Di balik hamparan esnya, pulau ini menyimpan kekayaan sumber daya alam strategis, mulai dari mineral tanah jarang (rare earth elements), uranium, minyak dan gas, hingga potensi perikanan. Sumber daya tersebut dinilai vital bagi pengembangan teknologi modern, termasuk kendaraan listrik, industri chip, dan sistem persenjataan.
Bagi Uni Eropa, menurutnya, keberadaan Greenland dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada China dan Rusia, khususnya dalam rantai pasok mineral strategis. Tak heran jika Eropa berupaya keras mempertahankan pengaruhnya di kawasan Arktik di tengah meningkatnya persaingan global.
“Amerika Serikat, Rusia, dan China sama-sama berlomba memperluas pengaruh di Arktik. Karena itu, Eropa tidak ingin kehilangan pijakan strategisnya di Greenland,” katanya.
Secara politik, lanjut dia, Greenland merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark dan bukan anggota Uni Eropa, meski memiliki hubungan erat dengan Brussel. Namun demikian, pulau ini menjadi bagian penting dari sistem pertahanan NATO. Salah satu fasilitas militernya, Thule Air Base, berperan krusial dalam sistem deteksi dini rudal dan pertahanan udara NATO.
Ia menilai, jika Greenland merdeka sepenuhnya atau berpindah ke bawah pengaruh negara lain, maka Eropa berpotensi kehilangan kendali strategis di kawasan Arktik. Situasi tersebut dikhawatirkan akan mengubah keseimbangan kekuatan global, khususnya dalam konteks pertahanan Barat.
Dalam konteks hubungan transatlantik, ia juga menyoroti dinamika antara Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa. Menurutnya, Eropa dan NATO kini semakin berhati-hati terhadap langkah sepihak Washington yang berpotensi mengganggu stabilitas global.
“Greenland adalah simbol penting bahwa Eropa tidak ingin kepentingan strategisnya dikorbankan dalam rivalitas kekuatan besar,” ungkapnya. (nas)










