INDOPOSCO.ID – Jakarta belum sepenuhnya panas pagi itu ketika seorang pria berusia 50 tahun melangkah ke ruang konferensi pers. Jas rapi, senyum tipis, dan tatapan penuh percaya diri. Namanya John Herdman, kini resmi menjadi nakhoda baru Timnas Indonesia.
Alih-alih membuka pidato dengan kalimat formal yang kaku, pelatih asal Inggris itu justru memecah suasana dengan candaan tentang dirinya sendiri.
“Selamat pagi semua. Saya berharap postur saya tidak mengecewakan semua orang di sini ya. Saya mungkin kecil secara fisik, tetapi saya pastikan saya besar dalam semangat,” ujar Herdman mengawali sambutannya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Ruangan seketika dipenuhi tawa. Ketua Umum PSSI Erick Thohir tersenyum lebar, para jurnalis ikut tergelak. Sebuah perkenalan yang sederhana, namun langsung menancap.
Herdman tidak datang sendirian. Di barisan depan kursi tamu, istrinya duduk mendampingi, bersama dua anak mereka. Di sisi lain, tampak Cesar Meylan, sosok yang akan menjadi tangan kanannya di bangku pelatih Timnas Indonesia.
Bagi Herdman, Jakarta bukan sekadar destinasi kerja baru. Ini adalah awal dari petualangan yang sama sekali berbeda dalam hidupnya.
“Ini adalah perjalanan yang sangat menarik bagi saya dan keluarga untuk datang ke sini, melihat budaya baru, negara baru, dan pengalaman sepak bola yang baru,” ungkapnya.
Ia menyebut proyek ini bukan proyek biasa. Indonesia, menurutnya, adalah panggung besar yang menunggu aktor utama tampil lebih berani.
“Ini akan menjadi sebuah proyek yang sangat menarik, dan bersama-sama kita memiliki peran yang besar,” tegasnya.
Namun ada satu hal yang paling menyentuh perhatiannya sejak pertama kali mempelajari sepak bola Indonesia, yakni suporter setia Merah Putih.
Sorot matanya berubah lebih serius ketika membicarakan publik Tanah Air. Herdman tahu betul bagaimana stadion-stadion di Indonesia bisa bergemuruh seperti gunung meletus, dan bagaimana Garuda hidup bukan hanya di lapangan, tapi di dada jutaan orang.
“Namun yang paling penting adalah untuk rakyat, untuk para penggemar. Ketika saya melihat peluang Indonesia, saya merasa sangat yakin bahwa kelompok penggemar ini, masyarakat ini, pantas berada di panggung tertinggi sepak bola dunia,” tambahnya.
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Di masa lalunya, Herdman pernah mengukir sejarah bersama Kanada, membawa negara itu kembali ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun. Sebelumnya, ia juga menorehkan prestasi di sepak bola wanita Selandia Baru ke Piala Dunia, dan Kanada meraih dua perunggu Olimpiade.
Kini, cerita baru dimulai di Asia Tenggara. PSSI mengikat Herdman dengan kontrak dua tahun, dengan opsi perpanjangan dua tahun berikutnya. Tugasnya bukan ringan, memimpin Timnas senior sekaligus U-23, membangun fondasi jangka menengah sambil dikejar target jangka pendek.
Kalender 2026 sudah menunggu tanpa ampun. FIFA Series pada Maret, FIFA Matchday yang beruntun sepanjang tahun, hingga Piala AFF 2026 yang akan digelar mulai 25 Juli. Di atas kertas, jadwal itu terlihat melelahkan. Tapi dari cara Herdman berbicara, kelelahan bukanlah kata yang ada dalam kamusnya. (her)










