INDOPOSCO.ID – Fenomena calon tunggal dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) hingga minimnya kompetisi di internal partai politik (parpol) dinilai sebagai sinyal kuat bahwa demokrasi Indonesia sedang tidak sehat.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Utama BRIN, Prof. R. Siti Zuhro, dalam diskusi Survei KedaiKOPI bertajuk “Mencari Sosok Pemimpin Ideal Indonesia: Apa Kata Rakyat?” di Jakarta, Minggu (11/1/2026).
“Partai politik itu rumahnya demokrasi, tapi justru kesulitan menjalankan kompetisi yang free and fair (bebas dan adil) di internalnya sendiri,” ujar Siti Zuhro.
Ia menyoroti praktik kongres atau musyawarah nasional partai yang hanya menghadirkan satu kandidat ketua umum.
“Kalau kongres atau munas calonnya tunggal, itu demokrasi macam apa?” tegasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Siti Zuhro, berdampak langsung pada proses politik di tingkat nasional maupun daerah, termasuk munculnya pilkada dengan calon tunggal yang melawan kotak kosong.
“Di pilkada pun calonnya tunggal. Lawannya kotak kosong. Ini ngeri,” katanya.
Menurutnya, fenomena ini bukan hanya persoalan teknis pemilu, tetapi telah membentuk cara berpikir publik yang tidak sehat.
“Kita mulai diajari tidak rasional. Demokrasi kita semakin ke sini kacau banget,” ucapnya.
Ia menjelaskan, lemahnya kompetisi politik saat ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pembatasan organisasi dan kaderisasi pada era Orde Baru.
“Dulu ormas itu alat kaderisasi awal sebelum masuk partai politik. Tapi (ormas) justru dibonsai (sengaja dikecilkan dan dilemahkan supaya tidak berkembang) juga. Semua organisasi dibatasi. Itu membuat mata rantai kaderisasi putus,” jelasnya.
Akibatnya, partai politik kini kesulitan menyiapkan stok pemimpin alternatif yang berkualitas. “Apa gunanya parpol kalau tidak menghadirkan kader-kader baru yang berkualitas?” tambahnya.
Siti Zuhro menilai, jika situasi ini terus dibiarkan, demokrasi Indonesia hanya akan menjadi prosedural semata, tanpa substansi kompetisi gagasan dan kualitas kepemimpinan. Dan tanpa perbaikan mendasar, besarnya jumlah penduduk dikhawatirkan hanya akan menjadi angka statistik, bukan sumber lahirnya pemimpin-pemimpin besar bagi masa depan bangsa. (her)









