INDOPOSCO.ID – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN merupakan kementerian yang hadir di jajaran kabinet Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Giibran Rakabuming Raka. Kehadiran kementerian ini merupakan buah transformasi dari kelembagaan yang keberadaannya sudah berbilang tahun dan dikenal luas oleh masyarakat, yakni BKKBN.
Usai diambil sumpah oleh Presiden sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN pada Oktober 2024, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd segera menelurkan lima program inovasi terkait dengan siklus kehidupan manusia. Kelima program tersebut adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting-GENTING; Taman Asuh Sayang Anak-TAMASYA; Gerakan Ayah Teladan-GATI; Lanjut Usia Berdaya-SIDAYA; dan SuperApps KeLuarga Indonesia-SAKINA.
Bersama dengan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), kelima program quick win tersebut digulirkan secara masif oleh Menteri dan jajarannya ke tengah masyarakat sasaran. Presiden Prabowo pernah menitahkan kepada para menterinya agar jangan banyak seminar, workshop dan sejenisnya, tetapi mereka harus banyak turun langsung ke lapangan.
“Kita sudah melakukannya sepanjang tahun 2025, dan sekaligus menunjukkan bahwa negara hadir di tengah masyarakat,” tutur Menteri Wihaji di berbagai kesempatan.
Sederet program yang diampu Kemendukbangga/BKKBN pada hakekatnya untuk menjalankan Asta Cita Presiden dan Wapres, khususnya dalam pengembangan SDM dan pengentasan kemiskinan. Lalu, sepanjang 2025 banyak terobosan yang dilakukan Kemendukbangga/BKKBN terkait dengan lima quick win tersebut. Kemendukbangga/BKKBN turut menggandeng sejumlah kementerian dalam program ini.
Kemendukbangga/BKKBN secara resmi telah pula meluncurkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) pada pada 21 April 2025, bertempat di Gedung Islamic Center, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Program nasional GATI hadir sebagai jawaban atas meningkatnya fenomena “fatherless” di Indonesia.
Berdasarkan Pendataan Keluarga Tahun 2025 (PK 25), sekitar 25,8 persen anak-anak Indonesia kehilangan figur ayah dalam kehidupan mereka. Sekitar satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia pada tahun 2025 mengalami fatherless.
“Sebagai kementerian yang menangani sumber daya manusia, dari calon pengantin sampai lansia , program GATI menjadi penting,” ujar Menteri Wihaji.
GATI merupakan gerakan kolaboratif yang strategis untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan, pendampingan remaja, hingga berbagi peran domestik bersama pasangan. Fokus Kemendukbangga/BKKBN memastikan ayah hadir dalam pengasuhan untuk anak-anaknya, Kekinian, semakin bertumbuh komunitas-komunitas GATI di sejumlah wilayah.
Untuk menggerakkan ayah lebih berperan dalam pengasuhan, Menteri Wihaji menghadirkan satu program turunan, berupa Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah. Insiatif ini menjadi gerakan yang cukup massif di bulan Juli 2025, dan mewarnai di banyak media sosial dan online. Sederhana namun bermakna, di mana Kemendukbangga/BKKBN mencoba menggugah emosi para ayah untuk hadir di tengah anak-anaknya. Sementara bagi remaja, sejak dini mereka dikenalkan bagaimana menjadi sosok ayah teladan dalam keluarga.
Menteri Wihaji juga menelurkan program Lansia Berdaya (Sidaya). Program ini dirancang sebagai solusi komprehensif bagi pemberdayaan lansia di Indonesia secara berkelanjutan. Secara resmi Sidaya diluncurkan secara nasional di Lamongan, Jawa Timur pada 4 Desember 2025.
Menteri Wihaji menekankan bahwa program Lansia Berdaya (Sidaya) diluncurkan untuk memastikan lansia dalam kondisi sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia. Persentase ini diprediksi akan meningkat signifikan. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai hingga 20 persen pada tahun 2045. Fenomena ini menyoroti urgensi program seperti Program Lansia Berdaya (Sidaya) di seluruh negeri.
Program terbaru adalah SuperApps Keluarga Indonesia – SAKINA baru dilakukan soft launching, dan dijadualkan akan diluncurkan secara nasional di pertengahan Januari 2026 oleh Menteri Wihaji. Super Apps “Keluarga Indonesia” adalah platform digital berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan mutu layanan publik di bidang kependudukan, pembangunan keluarga, dan keluarga berencana.
“Melalui satu aplikasi terpadu, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengakses data, informasi, edukasi, serta konsultasi terkait layanan keluarga, kesehatan, ekonomi, dan pengasuhan dengan dukungan big data yang terintegrasi, terkini, terpercaya, dan detail hingga tingkat nama dan alamat keluarga di Indonesia,” tutup Wihaji. (ney)












