INDOPOSCO.ID – Di balik suasana sejuk Hambalang, ada pesan politik yang jauh lebih panas dari sekadar agenda retret. Retret kedua Kabinet Merah Putih yang digelar Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya pada Selasa (6/1/2026) bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum strategis untuk membaca arah kekuasaan ke depan.
Berbeda dengan retret perdana di Akademi Militer Magelang yang sarat simbol disiplin dan penyamaan visi, analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai pertemuan kali ini memiliki bobot politik yang lebih tajam. Evaluasi internal dan uji kekompakan koalisi menjadi taruhannya, terutama menjelang dinamika politik 2026.
“Ada dua (tujuan retret Hambalang) menurut saya. Yang pertama, memang untuk melakukan evaluasi kabinet, terutama di tahun baru, yaitu sekaligus menguji loyalitas kabinet juga. Tapi yang terpenting (yang kedua) adalah bagaimana Pak Prabowo mengkonsolidasi kabinetnya lagi, untuk menyambut 2026, karena di tahun ini bukan tahun yang mudah juga,” ujar Hendri melalui gawai, Rabu (7/1/2026).
Tak hanya soal soliditas elite, pria yang akrab disapa Hensa ini juga menyoroti cara Prabowo memaknai kritik publik. Potongan pidato Prabowo yang menyebut ejekan sebagai bentuk penghargaan dinilai menyimpan risiko tafsir, terutama di tengah ruang demokrasi yang menuntut keterbukaan terhadap suara rakyat.
“Memang tergelitik kita bahwa dianggapnya ejekan itu adalah sebuah penghargaan, padahal belum tentu bahwa masukan kritis dari masyarakat seharusnya diterima sebagai masukan untuk memperbaiki, bukan dimaksudkan mengejek,” kata Hensa.
Menurutnya, kritik publik bukan sekadar gema di ruang maya, melainkan cermin yang dapat digunakan pemerintah untuk mengoreksi langkah. Terlebih, tantangan nyata tengah dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi rumah tangga hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum surut.
Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) itu pun mendorong perubahan pendekatan kepemimpinan, dari narasi deskriptif menuju tindakan yang lebih transformatif.
“Bagaimana menggerakkan keadaan itu? Tentu saja dengan mengubah apa yang terjadi hari ini di masyarakat. Tentang ekonomi keluarga misalnya, tentang PHK yang masih saja terus berlangsung,” tambahnya.
Di tengah konsolidasi politik dan ekspektasi publik yang kian tinggi, retret Hambalang menjadi penanda bahwa arah kepemimpinan ke depan tak cukup hanya solid di dalam, tetapi juga harus terasa dampaknya di luar. (her)













