INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan, bahwa musibah tidak boleh melemahkan semangat belajar dan mengajar di tengah keterbatasan.
“Kita menerima musibah ini dengan ikhtiar, kesabaran, dan ketabahan. Keterbatasan yang kita hadapi saat ini adalah keadaan darurat, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bergerak,” ujar Atip dalam keterangan, Selasa (6/1/2026).
Justru, menurutnya, dari keterbatasan ini harus lebih kreatif dan menjadikannya sebagai tantangan untuk bangkit. Lebih jauh Atip menekankan bahwa proses pembelajaran tetap harus berjalan dengan menyesuaikan kondisi lapangan, tanpa meninggalkan tujuan utama pendidikan.
“Bapak dan Ibu Guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan situasi darurat ini. Namun tujuan kita tetap sama, yaitu menghadirkan pendidikan yang bermutu bagi peserta didik,” katanya.
Ia menjelaskan, bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memetakan tingkat kerusakan satuan pendidikan pascabencana menjadi kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Sekolah rusak ringan telah dibersihkan agar dapat segera digunakan kembali, sedangkan sekolah dengan kategori rusak berat akan menjadi prioritas program revitalisasi tahun 2026.
“Untuk Sumatera Barat, terdapat sekitar 50 sekolah yang menjadi prioritas revitalisasi. Sementara di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara jumlahnya sekitar seribuan sekolah,” bebernya.
“Pembelajaran di tiga provinsi terdampak ini disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tidak dipaksakan seperti situasi normal,” sambungnya.
Sebelumnya, hari pertama masuk sekolah di awal semester genap tahun ajaran 2025/2026, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyapa siswa dan guru di SMA Negeri 12 Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (5/1/2026) kemarin.
SMA Negeri 12 Kota Padang pada 28 November 2025 dan kembali terendam pada 2 Januari 2026. Banjir tersebut menggenangi seluruh area sekolah seluas kurang lebih 14.000 meter persegi, merendam ruang kelas, laboratorium IPA, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang guru, hingga ruang administrasi dengan ketinggian lumpur mencapai 1 hingga 1,2 meter.
Setelah memimpin jalannya upacara bendera, Wamen Atip meninjau langsung sejumlah ruang kelas yang terdampak banjir serta mengunjungi tenda darurat yang saat ini difungsikan sebagai ruang belajar sementara. (nas)









