INDOPOSCO.ID – Penutupan Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan rohani sekaligus awal dari panggilan baru bagi umat beriman. Sabtu (27/12/2025) pagi, Vikaris Jenderal Roma dan Imam Agung Basilika Santo Yohanes Lateran, Kardinal Baldassare Reina memimpin ritus khidmat tersebut, mengajak Gereja untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi mewujudkan kehadiran Allah di tengah dunia yang kehilangan persaudaraan, keadilan, kebenaran, dan damai.
“Pada hari ini, dengan menutup Pintu Suci, kita menaikkan kepada Bapa sebuah kidung syukur atas segala tanda kasih-Nya kepada kita, sambil menyimpan dalam hati kesadaran dan harapan bahwa pelukan belas kasih dan damai-Nya tetap terbuka bagi semua bangsa,” kata Kardinal Reina, dikutip dari Vatican News, Minggu (28/12/2025).
Dalam keheningan yang khusyuk di serambi basilika, Kardinal menaiki anak tangga, berlutut di ambang pintu, lalu menutup daun pintu besar itu dengan penuh hormat. Umat yang hadir menyusul mendekat, menyentuh ambang Pintu Suci sebagai tanda doa dan permenungan terakhir.
Pintu yang sama sebelumnya dibuka pada 29 Desember 2024, pada pesta Keluarga Kudus. Penutupannya bertepatan dengan pesta Santo Yohanes Rasul dan Penginjil. “Murid yang menjadi sahabat terdekat Yesus,” ujar Kardinal dalam homilinya.
“Yohanes telah berjalan bersama Yesus, mendengarkan suara-Nya, bahkan suara tanpa kata dari hati-Nya, dengan menyandarkan telinganya di dada-Nya,” lanjutnya, mengajakmu umat meneladani kedekatan yang sama dengan Tuhan.
Kardinal Reina menegaskan bahwa iman Kristiani tak dapat dipisahkan dari kepedulian pada mereka yang hidup dalam beban penderitaan dan ketidakadilan. Ia menyoroti ketiadaan solidaritas antara pusat dan pinggiran, rapuhnya persaudaraan, keluarga yang tercerai-berai, hingga keadilan sosial yang belum berpihak pada martabat manusia.
Ia juga menyinggung krisis yang lebih dalam: ketiadaan visi, pemikiran, dan damai. “Ketiadaan damai di dunia di mana logika yang terkuatlah yang berkuasa,” katanya, seraya mengingatkan bahwa keadaan ini membuat Allah seakan menjadi bisu jika umat menyerah pada inersia.
Di tengah realitas itu, harapan tetap menyala. “Inilah harapan yang menggerakkan para peziarah tak terhitung jumlahnya yang meninggalkan jejak langkah di jalan-jalan kita,” ujar Kardinal, mengenang sentuhan para peziarah pada Pintu Suci sebagai pencarian akan belas kasih Allah.
Ia menegaskan warisan sejati Yubileum: “Sakramen yang tersebar luas tentang kedekatan Allah yang penuh kejutan.” Sebab, meski Pintu Suci telah ditutup, “Yang Bangkit tetap melaluinya dan tak pernah lelah mengetuk, untuk menawarkan dan menemukan belas kasih.”
Pesan itu berpuncak pada pengingat eskatologis yang kuat. “Pada akhirnya, pada akhir zaman kita akan dihakimi oleh Kasih, oleh kemampuan kita untuk mengakui semua orang sebagai saudara dan saudari, termasuk mereka yang kita anggap sebagai musuh,” tegasnya.
Memasuki babak baru bagi Keuskupan Roma, Kardinal Reina mengajak umat menyatukan doa dan karya agar Gereja dan kota menjadi ruang kehadiran Tuhan. Mengutip Paus Leo XIV, ia menekankan panggilan Roma untuk menjadi “laboratorium sinodalitas” yang menghidupkan Injil dalam kehidupan nyata.
Sebelum berkat penutup, Kardinal menyampaikan terima kasih kepada Paus, panitia Yubileum, otoritas sipil dan militer, serta umat yang telah menunjukkan kasih dan keramahtamahan kepada para peziarah.
Sejarah mencatat, Pintu Suci Lateran adalah yang pertama dibuka dalam Yubileum 1423. Namun pesan penutup Yubileum kali ini jelas, ketika pintu fisik ditutup, pintu hati justru harus semakin dibuka, agar kasih, belas kasih, dan kedekatan Allah terus hidup di tengah dunia. (her)




















