INDPOSCO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah memverifikasi laporan temuan kasus stunting di Desa Toweren, Kabupaten Aceh Tengah, yang merupakan salah satu wilayah terdampak bencana di Sumatera.
“Saya masih konfirmasi ke lapangan kondisi tersebut,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Rabu (24/12/2025).
Ia mengklaim bantuan dari Kemenkes dan Dinkes setempat sudah tersalurkan, dari Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau MPASI dan vitamin A hingga program edukasi tumbuh kembang anak serta dukungan bagi ibu menyusui.
“Yang jelas Kemenkes dan dinkes sudah kirimkan bantuan PMT/MPASI, vitamin A dan edukasi kesehatan tumbuh kembang anak serta pendampingan kepada Ibu Menyusui (busui),” ujar Aji.
Ia menjelaskan stunting merupakan hasil dari proses panjang yang penyebabnya bahkan dapat bermula sebelum masa pernikahan dan kehamilan. Oleh karena itu, intervensi dilakukan sejak dini pada remaja putri melalui pemberian tablet tambah darah.
“(Stunting) bisa dimulai penyebabnya sblm menikah dan hamil. Makanya kita intervensi sejak remaja putri dengan tablet tambah darah,” jelas Aji.
Berdasar data yang dikantonginya mengenai kasus stunting di Aceh menunjukkan terdapat penurunan kasus stunting cukup signifikan, dari sekitar 31,2 persen (2022) menjadi 29,4 persen (2023), meskipun masih di atas ambang batas WHO (<20 persen) dan menempatkan Aceh di posisi ketujuh tertinggi nasional pada 2023, lebih baik dari peringkat keempat tahun sebelumnya.Ia mengaku masih menantikan informasi valid dari daerah untuk memastikan kebenaran kasus tersebut. "Saya masih nunggu konfirmasi dari daerah tentang kasus tersebut," imbuh Aji.Kasus stunting di wilayah terdampak bencana Sumatera pertama kali diungkapkan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, dr. Sulasmi.Ia mengungkapkan salah satu wilayah memiliki cukup banyak anak stunting adalah Desa Toweren. Terdapat 13 anak yang mengalami stunting."Kebetulan balita stunting yang kami temui di Desa Toweren itu adalah salah satu desa yang jauh dari Aceh tengah ini. Kebetulan kami sempat menemui 13 anak tersebut dan sudah melakukan beberapa edukasi," kata dr Sulasmi terpisah dalam konferensi daring IDAI, Senin (22/12/2025).(dan)











