INDOPOSCO.ID – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), menandatangani Heads of Agreement (HoA) dengan PT Renikola Primer Energi untuk kerja sama penyediaan compressed biomethane gas (CBG) dengan titik serah di Sumatera Utara (Sumut). Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mendukung percepatan transisi energi hijau sekaligus pemanfaatan energi terbarukan berbasis limbah organik.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menyatakan bahwa Subholding Gas berkomitmen memperkuat pasokan energi nasional, termasuk yang berasal dari sumber daya terbarukan seperti CBG.
“Penandatanganan HoA ini merupakan wujud nyata komitmen Subholding Gas dalam pemanfaatan pasokan gas dari energi terbarukan, khususnya compressed biomethane gas,” ujarnya, seperti dikutip Rabu (24/12/2025).
CBG merupakan energi alternatif hasil proses upgrading biogas, di mana gas metana dari limbah organik dimurnikan hingga memiliki kualitas setara gas bumi, lalu dikompresi agar mudah disalurkan dan disimpan. Dengan nilai kalor dan karakteristik yang mirip compressed natural gas (CNG), CBG dapat langsung dimanfaatkan untuk sektor industri, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga.
Melalui PGN Gagas, PGN terus memperkuat penyediaan energi beyond pipeline dengan berbagai moda penyaluran, seperti CBG, CNG, dan LNG. Upaya ini ditujukan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum terhubung jaringan pipa gas, sekaligus mendukung visi pemerintah dalam menghadirkan energi yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan.
Kerja sama antara PGN Gagas dan Renikola ini akan dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur CBG, pelaksanaan studi kelayakan, serta pengembangan ekosistem distribusi yang efisien dan berkelanjutan. Sumatera Utara dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki potensi besar limbah organik dari sektor perkebunan dan peternakan.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan CBG tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang pasokan energi baru sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
“Pemanfaatan limbah organik menjadi CBG memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan industri perkebunan, serta berpotensi menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan,” jelasnya.
PGN Gagas berharap implementasi CBG dapat segera terealisasi di daerah-daerah dengan potensi limbah organik tinggi, termasuk Sumut. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.(rmn)




















