INDOPOSCO.ID – Di tengah laju Jakarta yang semakin cepat dan era kecerdasan buatan (AI) yang kian mendominasi kehidupan, budaya Betawi menghadapi tantangan yang tidak lagi sekadar soal ruang, melainkan juga soal cara berpikir dan bertindak.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Adat Bamus Suku Betawi 1982, Nachrowi Ramli usai menghadiri Refleksi Akhir Tahun 2025 yang digelar Bamus Suku Betawi 1982 di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Mengenai tantangan terbesar yang dihadapi tokoh-tokoh Betawi, baik pendidik, budayawan, seniman, maupun sejarawan, Nachrowi menyebut bahwa perubahan zaman membawa dampak yang kompleks.
“Tantangannya banyak, sebab kan yang berubah kan tadi, bukan hanya fisik tapi psikis juga berubah, pola pikir juga berubah. Ketika pola pikir berubah, pola tindak juga berubah,” ungkap Nachrowi kepada INDOPOSCO.
Pria yang akrab disapa Bang Nara itu mengatakan, tantangan utama justru terletak pada kemampuan masyarakat Betawi untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
“Oleh karena itu merupakan tantangan, tantangannya apa? Merubah diri. Oleh karena itu, lekaslah. Kita harus pintar-pintar, arif bijaksana, menyikapi ini,” tegasnya.
Bang Nara secara khusus menyinggung perkembangan teknologi dan era kecerdasan buatan yang harus disikapi dengan kehati-hatian.
“Di era kecerdasan buatan ini ya, kita harus hati-hati agar supaya tadi (budaya Betawi) tidak terkikis. Tidak terdistorsi oleh perkembangan teknologi, yang mungkin tidak sejalan dengan budaya Betawi,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat Betawi tidak ingin tertinggal oleh kemajuan zaman. “Tapi kami tidak mau ketinggalan ketika dunia ini berkembang kami juga ingin ikut berkembang. Ketika dunia ini maju, kami juga ingin ikut maju,” tutur Bang Nara.
Dalam pandangannya, kunci menjaga identitas Betawi ke depan adalah memperkuat persatuan internal sekaligus membangun kolaborasi eksternal.
“Yang pertama adalah kita menyatukan kaum Betawi supaya satu hati. Habis satu hati, satu pola pikir, satu pola tindak. Dengan kata lain itu kompak,” kata Ketua Mahkamah Partai Demokrat itu.
Selain konsolidasi internal, kehadiran pemerintah juga dinilai mutlak diperlukan. “Pemerintah harus hadir di tengah-tengah perkembangan kaum Betawi. Kalau tidak hadir, nanti akan terjadi lagi yang tidak sesuai dengan harapan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Bang Nara juga menegaskan bahwa masyarakat Betawi tetap terbuka dan egaliter dalam membangun hubungan dengan suku lain di Indonesia. “Kita welcome kok dengan semua suku di Tanah Air ini,” tutupnya.
Di tengah perubahan zaman yang tak terelakkan, pesan Bang Nara menjadi jelas, bahwa budaya Betawi harus terus bergerak, beradaptasi, dan berkolaborasi, agar tidak hanya dikenang dalam seremoni, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat. (her)










