INDOPOSCO.ID – Upaya pemerintah memperkuat ekosistem pendidikan Islam melalui pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren mendapat respons kuat dari para tokoh pesantren dan akademisi. Dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pesantren para narasumber menegaskan perlunya menjaga tradisi pesantren yang berakar pada nilai-nilai surau, sekaligus mendorong modernisasi agar pesantren mampu bersaing di tingkat global.
Staf Khusus (Stafsus) Menteri Agama (Menag) Bidang Kerukunan Umat Beragama, Pengawasan, dan Kerja Sama Luar Negeri, Gugun Gumilar menegaskan, bahwa pesantren adalah pusat ilmu sekaligus pusat peradaban yang membentuk karakter bangsa.
Kehadiran Ditjen Pesantren, menurutnya, merupakan langkah strategis dalam memperkuat peran pesantren pada level nasional maupun internasional. “Ulama telah meletakkan fondasi bangsa sejak masa perjuangan. Negara kini berkewajiban hadir lebih kuat, dan pembentukan Ditjen Pesantren adalah momentum penting untuk menata ulang ekosistem pendidikan Islam,” ujar Gugun dalam keterangan, Senin (24/11/2025).
Ia mengungkapkan, bahwa masa depan pesantren harus dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni: ontologi pesantren sebagai institusi pendidikan paling autentik, epistemologi sebagai pusat ilmu keislaman yang berkontribusi global, dan aksiologi sebagai social capital yang manfaatnya diakui dunia.
“Modernisasi kurikulum, penguatan bahasa asing, dan ruang riset bagi santri menjadi syarat agar pesantren dapat berkompetisi di era global,” terangnya.
Hal yang sama diungkapkan Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat, KH. Moch. Chozein Adnan. Dia menyebut lahirnya Ditjen Pesantren sebagai “hadiah negara” yang sudah lama dinantikan para kiai dan lembaga pesantren.
“Kemandirian pesantren adalah identitas yang tidak boleh hilang. Bantuan dan regulasi pemerintah harus menjadi stimulan, bukan intervensi yang mengubah tradisi dan otoritas pengajaran di pesantren,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi ulama dan umara dalam mengawal agenda besar ini. Administrasi, tidak boleh menghambat inti pendidikan. “Kami siap mengawal agar program-program seperti Dana Abadi Pesantren tersalurkan merata hingga ke pelosok, bukan hanya kepada pesantren yang dekat pusat kekuasaan,” tegasnya.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Prof Duski Samad menegaskan, bahwa pesantren harus berjalan dalam dua jalur, yakni menjaga ruh surau sebagai jati diri pendidikan dan pada saat yang sama membuka diri terhadap modernitas.
“Transformasi metodologis melalui riset, literasi digital, dan manajemen modern harus menjadi agenda baru pesantren,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama kampus dan pesantren. “Kami siap menjadi mitra strategis untuk meningkatkan standar tata kelola dan kapasitas pengajar, sehingga lulusan pesantren memiliki civil effect dan daya saing yang setara dengan lulusan lembaga pendidikan umum,” katanya. (nas)









