INDOPOSCO.ID – Setahun sudah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berjalan. Dari sekian banyak catatan, salah satu pekerjaan rumah (PR) paling besar yang kini mulai tersentuh adalah soal komunikasi politik pemerintah.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai, tanda-tanda perbaikan mulai tampak di tubuh pemerintahan baru ini. Langkah-langkah seperti pembentukan Badan Komunikasi Pemerintah (BKP), pengangkatan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi sebagai salah satu juru bicara presiden, serta peran aktif Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam menyampaikan program-program strategis pemerintah, menjadi sinyal bahwa Prabowo mulai membenahi hal yang dulu ia akui sebagai kelemahan.
“Masalah komunikasi yang diakui oleh Pak Prabowo sebagai pekerjaan rumah itu mulai diperbaiki. Ada perbaikan di PCO yang sekarang jadi Badan Komunikasi Pemerintah. Kemudian pengangkatan Mas Pras jadi salah satu juru bicara presiden membuktikan bahwa Prabowo sadar akan prioritas dan mulai berbenah,” ujar Hensa -sapaan akrab Hendri Satrio- melalui gawai, Senin (20/10/2025).
Namun, di balik deretan langkah itu, Hensa mengingatkan bahwa perbaikan komunikasi belum berbanding lurus dengan hasil nyata di lapangan. Menurutnya, meski sudah ada upaya membangun optimisme publik, seperti lewat pidato-pidato bernada positif dari para menteri, nyatanya masyarakat masih menunggu bukti konkret.
“Banyak yang bilang kalau dengar pidato Pak Purbaya (Menteri Keuangan), seolah bulan depan kita semua bisa jadi kaya,” kata Hensa.
“Pidato-pidato seperti itu menumbuhkan semangat dan harapan, tapi kita juga harus realistis. Ini baru tahun pertama, hasilnya belum banyak yang bisa benar-benar dirasakan,” lanjutnya.
Hensa kemudian membandingkan situasi ini dengan awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kala itu, kata dia, tingkat kesukaan publik terhadap Jokowi sangat tinggi, sehingga kepuasan terhadap kinerja pemerintah juga ikut melambung.
“Kalau Pak Jokowi, orang banyak yang suka sejak awal, makanya kepuasan publik pun tinggi. Sekarang, banyak penilaian publik yang harus dibereskan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti komposisi kabinet Prabowo yang terbilang gemuk, mencapai 49 kementerian. Menurut Hensa, dengan jumlah sebesar itu, seharusnya pemerintah bisa bergerak lebih cepat dan memberikan hasil nyata bagi masyarakat.
“Pak Prabowo itu seperti manajer tim sepak bola,” ujar Hensa menganalogikan.
“Reshuffle itu seperti mengganti pemain, sedikit demi sedikit. Tapi yang diharapkan masyarakat bukan pergantian pemain, melainkan kehidupan yang lebih baik,” sambungnya.
Meski begitu, Hensa tetap optimistis. Ia percaya bahwa dengan penguatan komunikasi dan dorongan terhadap kinerja para menteri, arah pemerintahan Prabowo-Gibran bisa semakin jelas dan terukur.
“Yang paling penting adalah bagaimana kinerja menterinya Pak Prabowo terus ditingkatkan, sesuai dengan keinginan beliau untuk mensejahterakan Indonesia,” tambah founder dari Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) itu.
Satu tahun pemerintahan boleh jadi belum cukup untuk menilai segalanya. Namun, bila komunikasi terus dibenahi dan pesan pemerintah makin terarah, bukan tidak mungkin, tahun kedua nanti akan menjadi momen pembuktian, apakah perubahan yang dijanjikan benar-benar bisa dirasakan rakyat, dan bukan hanya terdengar di podium. (rmn)




















