• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Andai Anggota Dewan “Cosplay” Jadi Rakyat

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 27 Agustus 2025 - 19:09
in Megapolitan
merak

Seorang pedagang asongan menjajakan dagangannya di pinggir jalan tol Jakarta-Merak, Rabu (27/8/2025). (ANTARA)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Asep (35) mengambil satu per satu tahu Sumedang dari bakul berwarna coklat. Dengan hati-hati ia memindahkan tahu tersebut ke dalam kantong plastik.

Satu per satu tahu itu ditata dengan rapi. Dalam satu kantong terdapat 10 tahu berbentuk dadu. Satu kantong plastik itu dihargai sebesar Rp10.000.

BacaJuga:

Akhir Pekan Ini Jakarta Masih Berpotensi Diguyur Hujan

Hujan Masih Mendominasi Prakiraan Cuaca di Jakarta Hari Ini

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Tak lama, ia pun berdiri bersandar di pagar pembatas tol, mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik tersebut dan menawarkannya ke pengendara mobil yang melewati jalan tol yang menghubungkan Jakarta – Merak.

“Tol masih lancar, jualannya dari pinggir aja,” kata ayah dua anak itu seperti dikutip Antara, Rabu (27/8/2025).

Sudah sejak empat tahun terakhir, ia beralih menjadi pedagang asongan sesudah kena PHK massal dari sebuah pabrik di kawasan Tangerang. Setiap kantong yang berhasil dijual, ia akan mendapatkan Rp2.000. Setiap hari, ia bisa menjual 30-40 kantong tahu.

Dia sangat bergantung pada kondisi jalan tol yang dekat dengan Gerbang Tol Cikupa itu. Biasanya menjelang siang hingga sore hari, jalanan akan tersendat. Dalam kondisi seperti itu, Asep tak lagi berdiri di pinggir jalan, ia menyelinap ke tengah jalan tol untuk menjajakan dagangannya. Tak dihiraukannya ancaman bahaya yang selalu mengintai, yang mungkin saja datang akibat arus lalu lintas di jalan tol.

Ia tak sendiri, masih banyak Asep-Asep lainnya yang mencari nafkah di antara deru jalanan tol. Ada yang menjajakan minuman dingin, kopi, kacang, buah potong dan lainnya.

Sebelumnya, pedagang asongan yang berjualan dekat gerbang tol itu tak sebanyak sekarang. Kondisi berubah tiga tahun terakhir. Pedagang asongan pun biasanya lebih banyak penduduk sekitar jalan tol, yang menawarkan keripik, tahu dan juga kopi. Sejak setahun terakhir, pedagang asongan semakin menjamur dan tak lagi hanya dari masyarakat setempat.

“Banyak yang dari Tigaraksa, Balaraja, Bitung yang jualan,” kata Asep.

Selain semakin banyaknya persaingan, Asep dan kawan-kawan juga menghadapi tantangan lainnya. Jumlah pembeli pun semakin sedikit dibandingkan beberapa bulan terakhir. Mayoritas pembelinya lebih banyak sopir truk yang melewati jalan itu.

Keluhan lesunya perekonomian juga dikeluhkan masyarakat di media sosial.

Akun Tiktok Erenshop Salatiga misalnya, sampai tak habis pikir sepinya pembeli di toko kelontongnya.

“Astaghfirullahal’adzim. Ada yang sama enggak, kalau penjualan tiga bulan terakhir sangat sepi. Mau buat muter aja susah banget,” ucap perempuan di video yang diunggah pada pekan pertama Agustus itu.

Perempuan itu juga meminta para pengguna media sosial lainnya, yang mencari kebutuhan pribadi, untuk datang berbelanja ke tokonya.

“Aku jualan buat makan bukan buat kaya,” katanya mengeluh.

Sementara uangnya habis digunakan untuk modal toko. Namun sayangnya, lesunya penjualan membuat uang yang seharusnya bisa diputar harus terbenam pada barang-barang di tokonya.

Keluhan serupa juga digaungkan pemilik akun media sosial lainnya. Akun bernama Voby mengeluhkan sepinya pembeli di warung sembako miliknya. Akibatnya, ia kesulitan menafkahi keluarganya.

Lesunya pembeli dalam beberapa bulan terakhir ini juga dirasakan Yana (40) yang memilih menutup sementara tokonya. Dibandingkan harus membuang waktu menunggu pembeli yang tak pasti, ia memilih menjadi pengemudi ojek online.

“Ketimbang enggak makan, mending ngojek sementara,” kata Yana.

Tunjangan rumah
Apa yang dihadapi masyarakat saat ini berbanding terbalik dengan anggota DPR yang sedang getol membahas tunjangan rumah. Tentu saja kabar itu menuai kekecewaan dari masyarakat.

Unjuk rasa yang dilakukan di depan gedung DPR pada Senin (25/8) merupakan luapan kekecewaan masyarakat yang menilai kurangnya empati dari anggota dewan di kala ekonomi masyarakat sedang dalam keadaan yang serba sulit.

Bahkan sebelumnya, artis sekaligus politikus Nafa Urbach dalam live Instagramnya menyebut tunjangan rumah itu sebagai hal yang wajar karena anggota DPR tidak lagi mendapatkan rumah dinas. Akibatnya banyak anggota parlemen yang memilih ngekos di kawasan Senayan untuk menghindari macet. Sebagai gantinya pemerintah kemudian memberikan uang kompensasi.

“Seperti saya yang tinggal di Bintaro. Setiap kali mau berkantor di Senayan ya pasti macetnya luar biasa. Ini saja saya sudah 30 menit di perjalanan, sudah macet saja,” kata Nafa yang kemudian menuai hujatan dari warganet karena dianggap tidak berempati.

Mendapat hujatan dari warganet, politikus Nasdem itu meminta maaf dan berjanji tidak akan menutup mata akan kehidupan masyarakat. Bahkan Nafa Urbach akan menyerahkan gaji dan tunjangan DPR untuk guru.

Dalam pernyataannya, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan anggota DPR menerima tunjangan rumah hanya dalam waktu satu tahun saja selama periode jabatan 2024-2029. Anggota DPR yang dilantik sejak Oktober 2024 sudah tak mendapatkan fasilitas rumah dinas. Dengan begitu, mereka akan menerima tunjangan hingga Oktober 2025 saja.

Tunjangan itu diberikan sebesar Rp50 juta per bulan selama satu tahun.
Dengan begitu, tunjangan yang diberikan hanya dalam waktu satu tahun digunakan untuk biaya kontrak selama lima tahun.

Sebenarnya tunjangan perumahan tersebut merupakan hak anggota dewan, namun kurang elok rasanya membahas tunjangan anggota dewa di kala masyarakat kesulitan bertahan hidup. Pembahasan tunjangan seakan-akan perbuatan nirempati. Kebijakan tanpa empati hanya akan melahirkan kesenjangan. Pembangunan hanya akan dilihat sebagai catatan statistik, yang tak dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Seandainya para anggota atau pejabat di negeri ini cosplay atau bertukar ,peran sehari saja jadi rakyat jelata, mungkin mereka akan jadi lebih bijak. Betapa sulitnya bertahan hidup dengan kondisi ekonomi yang terpuruk saat ini. Bahkan untuk mendapatkan untung seribu dua ribu perak saja harus menyabung nyawa.

Belum lagi beban lainnya. Sebut saja judi online dan pinjaman online yang mencari korban di masyarakat menengah ke bawah yang kurang mendapatkan literasi.

“Gak gila aja udah untung, ” kata Yana terkekeh.

Andai sehari saja anggota dewan cosplay menjadi rakyat jelata, akankah bisa bertahan di tengah himpitan ekonomi saat ini? Oh, iya, lupa, mereka kan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Bisa jadi, mereka kini sedang mewakili rakyat untuk hidup mewah. (wib)

Tags: Anggota DewanCosplayrakyat

Berita Terkait.

Akhir Pekan Ini Jakarta Masih Berpotensi Diguyur Hujan
Megapolitan

Akhir Pekan Ini Jakarta Masih Berpotensi Diguyur Hujan

Sabtu, 28 Maret 2026 - 08:27
Hujan
Megapolitan

Hujan Masih Mendominasi Prakiraan Cuaca di Jakarta Hari Ini

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:33
KH-Lutfi-Hakim
Megapolitan

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Kamis, 26 Maret 2026 - 09:20
hujan
Megapolitan

Waspadai, Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Sepanjang Hari

Kamis, 26 Maret 2026 - 08:19
Pemudik
Megapolitan

Strategi FWA dan Rekayasa Lalu Lintas Redam Kepadatan Arus Balik

Rabu, 25 Maret 2026 - 13:24
TTPG
Megapolitan

Puncak Arus Balik Terminal Pulo Gebang Terjadi Akhir Pekan

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:32

BERITA POPULER

  • Kekuatan Kolaborasi Tumbuhkan Penghimpunan Ramadan 1447 H Dompet Dhuafa Lampaui 15%

    Jelang FIFA Series, Jay Idzes Bocorkan Atmosfer Baru Timnas Indonesia

    1235 shares
    Share 494 Tweet 309
  • Rehabilitasi Pascabencana Sumatera, Tito Minta Daerah Aman Bantu Daerah Rusak Parah

    952 shares
    Share 381 Tweet 238
  • Lebaran 2026, Kakorlantas: Lalu Lintas Terkendali Meski Mobilitas Tinggi

    978 shares
    Share 391 Tweet 245
  • 5 HP Gaming Terbaik 2026 untuk Mabar dan Push Rank, Performa Gahar Tanpa Lag

    737 shares
    Share 295 Tweet 184
  • Kasus Andrie Yunus, Amnesty Singgung Warisan Jokowi dan Ancaman Otoritarianisme

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.