INDOPOSCO.ID – Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah gencar mendorong kolaborasi riset dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung ketahanan pangan dan energi berkelanjutan di Indonesia.
Kepala ORTN, Syaiful Bakhri menjelaskan, bahwa teknologi riset berbasis reaktor dan akselerator untuk berbagai aplikasi pada saat ini semakin meningkat. Sebagai bagian dari inisiatif ini, BRIN menggagas skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) untuk mendukung penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di bidang ketenaganukliran.
“Riset dan inovasi ini mencakup pengembangan teknologi nuklir yang aman dan berkelanjutan untuk energi, serta aplikasi non-energi di sektor pangan, kesehatan, dan industri,” ujar Syaiful dalam keterangan, Senin (21/7/2025).
Ia menambahkan, pemanfaatan energi nuklir secara aman dan berkelanjutan diwujudkan melalui revitalisasi Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) dan fasilitas laboratorium pendukungnya.
Lebih jauh Syaiful merinci berbagai program nuklir yang memberikan manfaat signifikan bagi energi, pangan, dan kesehatan. “RIIM Invitasi Strategis untuk bidang ketenaganukliran mencakup dekontaminasi dan pengelolaan limbah radioaktif, revitalisasi RSG-GAS, pengembangan fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir, serta produksi radioisotop untuk medis dan industri,” bebernya.
Khusus revitalisasi RSG-GAS, ia menyebut fokus pada perbaikan sistem instrumentasi, infrastruktur, dan optimalisasi iradiasi. Syaiful tidak menampik bahwa penuaan fasilitas telah menyebabkan berbagai tantangan teknis dan keselamatan yang menghambat pemanfaatan optimal RSG-GAS.
“Situasi ini telah mengganggu pasokan produk radioisotop dan radiofarmaka untuk kebutuhan pasar domestik maupun regional,” tegasnya.
Ia menggarisbawahi pentingnya aplikasi teknologi nuklir dalam pengembangan industri pangan dan penguatan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, ketahanan pangan tidak dapat tumbuh tanpa dukungan industri yang kuat, dan industri mustahil maju tanpa riset.
“Ketahanan pangan ini tidak mungkin tumbuh kalau tidak ada industrinya. Dan industri juga tidak mungkin tiba-tiba pintar begitu saja tanpa ada riset,” katanya.
“Dalam hal ini, kami menyiapkan platform kolaborasi riset untuk peningkatan peran industri agar industri memiliki produk yang bermutu, daya tahan yang bagus, dan kualitas yang bagus pula,” sambung Syaiful. (nas)








