• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Waspada Penglihatan Memburuk, Tangani Dini AMD

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 15 Oktober 2021 - 16:11
in Gaya Hidup
AMD

Ilustrasi mata. Foto: Pixabay

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Sama seperti penyakit lainnya yang membutuhkan pengobatan dini, begitu juga AMD atau degenerasi makula terkait usia (AMD) agar tak berujung perburukan kondisi. Pada kasus AMD khususnya tipe basah, pasien bisa mengalami kondisi pengelihatan yang semakin memburuk apabila tak mendapatkan penanganan.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr M. Sidik, SpM(K) mengatakan, gangguan penglihatan dan kebutaan akibat AMD terjadi secara perlahan dan progresif sehingga memerlukan pemantauan ketat serta kontrol dokter dan pengobatan berkala.

BacaJuga:

Winter aespa Kembali Jadi Sorotan, Sikap di Bandara Picu Reaksi Warganet

V BTS Minta Penggemar Berhenti Datangi Hotel, Unggahan Weverse Picu Keprihatinan

Rayakan School Holiday Lebih Seru dengan “Playcation Package” di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Dia mengakui situasi pandemi Covid-19 bisa menyulitkan pengobatan, tetapi pasien diharapkan tetap bersemangat dan tidak takut ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan sehingga tidak terjadi kondisi penglihatan yang memburuk dan menurunkan kualitas hidup.

AMD merupakan kerusakan makula yaitu pusat fokus penglihatan pada retina mata. Terjadinya perubahan anatomi makula yang menyebabkan gangguan fungsi penglihatan mulai dari distorsi bentuk atau penglihatan buram hingga buta pada penglihatan sentral.

Akibatnya, pasien tidak dapat membaca, menulis bahkan melihat wajah orang di hadapannya, ungkap dokter spesialis mata konsultan dari RSCM-FKUI Dr dr Gitalisa Andayani SpM(K). “Ini menunjukan bahwa AMD merupakan penyakit mata yang perlu diwaspadai,” kata dia dalam keterangannya.

Prevalensi AMD tahap awal di seluruh dunia pada pasien berusia 45 dan 85 tahun yakni sekitar 8 persen dan AMD tahap lanjut sebesar 0,4 persen. Diperkirakan, hampir 288 juta orang diperkirakan memiliki AMD pada tahun 2040. Indonesia, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan tahun 2018 termasuk satu dari lima negara dengan jumlah penduduk yang mengalami gangguan penglihatan terbanyak selain Cina, India, Pakistan dan Amerika Serikat.

AMD terbagi menjadi dua jenis yakni AMD kering (dry AMD) dan AMD basah (wet AMD). Pada AMD kering, terjadi kerusakan macula secara bertahap, biasanya selama bertahun-tahun karena sel retina mati dan tidak beregenerasi. Gitalisa mengatakan, sekitar 10-15 persen AMD kering akan berkembang menjadi AMD basah.

Sementara pada AMD basah, terjadi pertumbuhan pembuluh darah abnormal ke dalam macula sehingga terjadi perdarahan atau akumulasi cairan di makula. Akibatnya, akan timbul jaringan parut pada makula yang menyebabkan pasien kehilangan penglihatan sentralnya atau kebutaan. AMD basah diketahui sering berkembang sangat cepat dan menyebabkan kehilangan daya lihat yang sangat signifikan.

Sementara itu, usia menjadi faktor risiko utama AMD. Biasanya kondisi ini terjadi pada mereka yang berusia di atas 60 tahun, tetapi bisa terjadi lebih awal. Di sisi lain, genetik dan kebiasaan merokok juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami AMD.

“Mereka yang memiliki faktor risiko ini tentu harus waspada, karena jika tidak ditangani dengan baik, AMD bisa mengakibatkan komplikasi hingga kebutaan, bahkan juga memengaruhi kesehatan mental seperti risiko depresi dan isolasi sosial yang lebih tinggi,” ujar Gitalisa.

Terkait pengobatan, pada AMD kering biasanya tidak mengakibatkan kehilangan penglihatan total, dan saat ini belum ada pengobatan yang efektif.

Hal ini berbeda dengan terapi pada AMD basah yang telah mengalami perkembangan pesat dalam dua dekade terakhir, salah satunya menggunakan Aflibercept untuk menghambat faktor pertumbuhan endotel antivaskular (vascular endothelial growth factor atau VEGF).

Terapi dengan Aflibercept dilakukan dengan cara memberi suntikan ke dalam bola mata (intravitreal), untuk memperlambat pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan mencegah kerusakan makula lebih lanjut, sehingga mencegah kebutaan.

Studi ALTAIR di tahun 2020 menunjukan, terapi Aflibercept intravitreal pada penderita AMD tipe basah dapat memperpanjang jarak interval pengobatan dalam rejimen treat-and-entend (T&E) dengan penyesuaian 2 minggu atau 4 minggu.

Hasil terapi menunjukkan perbaikan penglihatan dan anatomi makula pada pasien yang sebelumnya belum pernah menggunakan pengobatan selama 52 minggu, sekaligus mengurangi beban pengobatan.

Studi ini menunjukan sebanyak 40 persen pasien bisa berobat 4 bulan sekali, dan 60 persen lainnya 3 bulan sekali. Sebelumnya, pasien harus datang untuk perawatan wetAMD setiap 2 bulan sekali.

Gitalisa berharap, dengan interval terapi lebih lama, terlebih dalam masa pandemi COVID-19 saat ini, jumlah kunjungan dan beban ekonomi pasien dapat berkurang.

Terapi Aflibercept intravitreal dikatakan efektif pada satu sub-tipe AMD tipe basah yaitu Polypoidal Choroidal Vasculopathy (PCV), yang paling sering terjadi pada ras Asia sehingga disebut “Asian AMD”. Sekitar 25 – 50 persen pasien Asia dengan AMD juga memiliki PCV.

Pada masa pandemi saat ini, pasien khususnya AMD tipe basah diharapkan tak lagi khawatir menjalani pengobatan di rumah sakit.

Lebih lanjut, khusus mereka yang tak mengalami AMD atau kondisi gangguan penglihatan lainnya, sesuai imbauan pada Hari Penglihatan Sedunia 2021, Gitalisa mengingatkan agar tak lupa melakukan pemeriksaan mata minimal sekali dalam setahun, terutama ketika mulai menginjak usia 40 tahun, serta mendeteksi berbagai gangguan mata degeneratif termasuk AMD.

Dalam rangka mendukung deteksi dan pengobatan berbagai penyakit mata, PERDAMI berpartisipasi menyelenggarakan forum update pengetahuan dan pelatihan secara berkelanjutan ppada dokter spesialis mata seperti dilansir Antara.

Mereka juga menggandeng perusahaan di bidang life science terkait kesehatan dan pertanian untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien dan keluarganya dalam menangani AMD.

Head of Medical Pharmaceuticals PT Bayer Indonesia, Dr. Dewi Muliatin Santoso meyakini kolaborasi dan kerja sama dengan PERDAMI merupakan langkah penting dalam menangani penyakit AMD yang menurut dia mempengaruhi kehidupan kualitas hidup hingga beban ekonomi masyarakat. (aro)

Tags: inderamatausia

Berita Terkait.

Winter
Gaya Hidup

Winter aespa Kembali Jadi Sorotan, Sikap di Bandara Picu Reaksi Warganet

Kamis, 2 Juli 2026 - 23:08
BTS-V
Gaya Hidup

V BTS Minta Penggemar Berhenti Datangi Hotel, Unggahan Weverse Picu Keprihatinan

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:07
Ketua DKPP: Peran Media Sangat Vital bagi Penegakan Etik Pemilu
Gaya Hidup

Rayakan School Holiday Lebih Seru dengan “Playcation Package” di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:01
Film
Gaya Hidup

Teaser Perdana “The East Palace” Dirilis, Nam Joo Hyuk dan Roh Yoon Seo Berburu Arwah Penasaran di Istana Kerajaan

Kamis, 2 Juli 2026 - 04:02
Lee-Ye-Jun
Gaya Hidup

Lee Ye Jun Umumkan Comeback, Siap Rilis Single Emosional “Usan Eomneun Bam” pada 12 Juli 2026

Kamis, 2 Juli 2026 - 02:10
Rescene
Gaya Hidup

RESCENE Jadi Brand Ambassador Pertama CU, Puncaki Reputasi Brand Grup Rookie K-Pop Juli 2026

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:38

BERITA POPULER

  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1645 shares
    Share 658 Tweet 411
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    1089 shares
    Share 436 Tweet 272
  • Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

    1022 shares
    Share 409 Tweet 256
  • Menteri Ekraf: Arsip Jadi Jejak Transformasi Ekonomi Kreatif Indonesia

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2115 shares
    Share 846 Tweet 529
Ronaldo
Olahraga

Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

Editor Laurens Dami
Kamis, 2 Juli 2026 - 21:36

INDOPOSCO.ID - Timnas Portugal akan menghadapi Timnas Kroasia dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat (3/7/2026) besok. Duel sarat...

SelengkapnyaDetails
Belgia

Belgia Menang Kontroversial di Babak Gugur Piala Dunia, Pelatih Senegal Tetap Legawa

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:02
Hasil Piala Dunia Kunci Sukses Inggris Redam Perlawanan Kongo: Sabar dan Jaga Kepercayaan Diri

Hasil Piala Dunia Kunci Sukses Inggris Redam Perlawanan Kongo: Sabar dan Jaga Kepercayaan Diri

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:22
Hasil Piala Dunia: Pulangkan Bosnia dengan 10 Pemain, AS Lanjut ke 16 Besar

Hasil Piala Dunia: Pulangkan Bosnia dengan 10 Pemain, AS Lanjut ke 16 Besar

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:56
Hasil Piala Dunia: Belgia Lolos Dramatis, Penalti Ujung Laga Akhiri Mimpi Senegal

Hasil Piala Dunia: Belgia Lolos Dramatis, Penalti Ujung Laga Akhiri Mimpi Senegal

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:35
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.