• Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Koran
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Baik-Baik Saja

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 15 Agustus 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Ternyata yang sedang menjabat direktur utama (dirut) itu yang benar: Garuda baik-baik saja. Sampai sekarang. Masih bisa terbang.

BacaJuga:

Parade Kalkun

Bawazier Soedomo

Empat Dimensi

Ketika terjadi perombakan dewan direksi dan dewan komisaris, Jumat lalu, sang dirut tetap aman di kursinya: Irfan Setiaputra.

Berarti langkah-langkah penyelamatan Garuda yang ia lakukan dianggap sudah di jalur yang benar. Harus didukung sepenuhnya oleh pemegang saham mayoritas: Pemerintah Indonesia, yang diwakili Menteri BUMN.

Irfan memang baru menjabat Dirut Garuda Indonesia sejak 1,5 tahun lalu. Di saat Garuda sedang sulit-sulitnya. Tugas utama Irfan adalah menyelamatkan Garuda. Dirut sebelumnya diberhentikan terkait kasus sepeda baru Brompton yang diangkut dengan pesawat baru Garuda A340 dari Eropa.

Dukungan penuh pemerintah kepada Irfan itu terlihat dari komposisi baru dewan komisaris: hanya tiga orang. Sampai komisaris utamanya, Timur Sukirno, merangkap sebagai komisaris independen.

Begitu ramping dekom Garuda. Hanya tiga orang. Sampai-sampai seorang wartawan bertanya pada saya: apakah tidak menjadi seperti perusahaan keluarga?

“Tidak,” jawab saya. “… Itu bagus, simple, dan hemat.”

Mungkin wartawan sudah telanjur terbiasa melihat susunan dewan komisaris yang panjang. Banyak BUMN yang komisarisnya sampai sembilan orang.

Apalagi di sebuah BUMN yang juga perusahaan publik: komisaris independennya saja harus dua orang.

Dengan hanya tiga komisaris, maka proses sebuah persetujuan lebih cepat.

Di Amerika, Jepang, Inggris, Singapura, dan banyak negara lainnya, bahkan tidak punya komisaris. Mereka menggunakan sistem one board.

Dukungan pemerintah ke Irfan itu juga terlihat dari latar belakang komisaris baru: tidak tahu banyak soal Garuda.

Komisaris utama yang baru, Timur Sukirno, berlatar belakang pengacara.

Dikenal pula sebagai pengacara yang sering menangani perkara pailit dan litigasi.

Timur Sukirno sebelum ini adalah pengacara senior di kantor hukum terkenal, HHP (Hadiputranto, Hadinoto, & Partners).

Komisaris satunya lagi, Abdul Rachman, juga bukan orang yang tahu banyak Garuda. Sebelum ini, Abdul Rachman adalah komisaris utama Mandiri Taspen.

Yakni anak perusahaan BUMN Bank Mandiri, yang didirikan bersama Taspen.

Tinggal satu orang komisaris lama di situ. Yang mewakili pemegang saham non pemerintah: Chairal Tanjung –adik Chairul Tanjung.

Chairal mewakili kepentingan CT Corp milik Chairul Tanjung. Yang di Garuda memegang saham 28 persen. Yang investasinya di Garuda itu membuat CT rugi kira-kira sampai Rp10 triliun.

Di saat kritis seperti ini saya mendukung jumlah komisaris yang sedikit. Di masa sulit perusahaan harus lebih lincah. Juga harus cepat mengambil keputusan. Jangan juga terlalu banyak pendapat yang saling berseberangan. Perusahaan harus fokus.

Kini Dirut Irfan, 56 tahun, menjadi lebih ”berkuasa”. Tidak terlihat akan ada oposan di dalam Garuda. Irfan juga akan lebih terlihat apakah ia mampu mengeluarkan Garuda dari kesulitan besar.

Kurang apa lagi. Langkah lulusan informatika ITB ini didukung penuh. Posisinya diamankan. Komisaris yang bisa dianggap menghambat sudah tidak ada lagi.

Komisaris lama seperti Peter F. Gontha dan Yenny Wahid sudah mengundurkan diri. Dengan alasan masing-masing.

Peter sudah menulis surat mundur sejak Februari lalu. Ia terlihat punya banyak perbedaan pandangan dengan direksi. Bahkan Peter, suatu kali, mem-posting pendapatnya di medsos –yang bikin belingsatan Garuda.

Yenny Wahid, putri Presiden Gus Dur itu, mengundurkan diri di hari yang sama dengan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Jumat lalu. Tidak terbaca ada perbedaan pendapat apa. Secara formal Yenny memilih alasan agar Garuda lebih efisien.

Komisaris lama yang satu lagi juga tidak menjabat lagi: Elisa Lumbantoruan. Ia juga banyak tahu soal pedalaman Garuda. Elisa pernah menjadi direktur Garuda di zaman Emirsyah Satar.

Saya tidak pernah mendengar Elisa pernah menyuarakan apa. Saya tidak berhasil menghubungi Elisa kemarin sore.

Peter dan Yenny pernah bersuara soal perlunya diambil langkah efisiensi di jumlah dan kesejahteraan awak pesawat.

Direksi Garuda dianggap terlalu lemah di saat harus bertindak tegas.

Peter kelihatannya memang terlalu banyak tahu soal Garuda. Terutama mengenai permainan Dirut Garuda zaman Emirsyah Satar. Sejak 2008. Yakni sejak Emir punya program utama leap frog.

Peter kini semakin siap untuk membongkar total permainan di Garuda itu.

“Kapan?”

“Dalam waktu dekat,” jawabnya.

“Lewat apa?”

“Lewat Disway-lah,” katanya.

Peter bukan hanya berhenti dari komisaris Garuda. Tahun lalu, Peter juga mengundurkan diri dari jabatan staf khusus Menteri Luar Negeri. Alasannya: tidak mau makan gaji tanpa pekerjaan yang jelas. Apalagi gaji itu dari uang negara.

Peter, mantan pendiri RCTI dan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Polandia itu kini masih menjabat di banyak direksi dan komisaris perusahaan swasta.

Boleh dikata susunan komisaris Garuda yang baru ini akan sangat berbeda dengan yang lama. Baik gaya maupun proses pembahasan masalahnya.

Kini semua komisaris yang tahu banyak Garuda sudah tidak ada lagi. Jumlah direksi pun sudah dikurangi dua orang. Tinggal enam orang.

Kelihatannya, pemerintah ingin Garuda lebih cepat ambil keputusan. Agar arah Garuda semakin jelas: ke restoran atau ke kuburan. (*)

Tags: Dahlan Iskandisway
Berita Sebelumnya

Era 5G, Risiko Keamanan Siber Perlu Diantisipasi

Berita Berikutnya

DPR: Bantuan Alat Pertanian Jangan Jadi Milik Pribadi

Berita Terkait.

disway
Disway

Parade Kalkun

Minggu, 30 November 2025 - 08:00
disway
Disway

Bawazier Soedomo

Sabtu, 29 November 2025 - 08:00
disway
Disway

Empat Dimensi

Jumat, 28 November 2025 - 08:00
disway-kamis
Disway

Rehabilitasi Ira

Kamis, 27 November 2025 - 08:00
disway
Disway

Jembatan Merah

Rabu, 26 November 2025 - 08:00
disway
Disway

Kangkung Babi

Selasa, 25 November 2025 - 08:00
Berita Berikutnya
DPR: Bantuan Alat Pertanian Jangan Jadi Milik Pribadi

DPR: Bantuan Alat Pertanian Jangan Jadi Milik Pribadi

BERITA POPULER

  • hujan

    Hujan dan Banjir Kader KB Asahan Tetap Antar MBG 3B

    808 shares
    Share 323 Tweet 202
  • Dedi Mulyadi: Siswa Masuk Barak Militer Bukan Latihan Perang, Bantu Kesehatan Mental

    778 shares
    Share 311 Tweet 195
  • Persik vs Semen Padang: Macan Putih siap Mental, Kabau Sirah punya Momentum

    665 shares
    Share 266 Tweet 166
  • Biem Benyamin Apresiasi SMAN 49 Jakarta Bebas Perundungan

    659 shares
    Share 264 Tweet 165
  • DPR Tegaskan Tak Boleh Ada Penolakan Pasien, Imbas Meninggalnya Ibu dan Bayi Ditolak 4 Rumah Sakit

    657 shares
    Share 263 Tweet 164
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.