• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Klinik Unik, Bayar Berobat dengan Bibit Pohon, Kompos, dan Kotoran Ternak

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 28 Mei 2021 - 19:13
in Gaya Hidup
Klinik Asri di Sukada Kayong Utara, Kalimantan Barat ini membolehkan pasien membayar biaya berobat dengan bibit pohon. Foto: Pontianak Post/Haryadi

Klinik Asri di Sukada Kayong Utara, Kalimantan Barat ini membolehkan pasien membayar biaya berobat dengan bibit pohon. Foto: Pontianak Post/Haryadi

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Angin semilir membelai lembut di bawah pohon rindang di depan Klinik Asri di Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar). Pagi itu, sejumlah pasien berdatangan ke klinik yang berada di kaki bukit di kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) ini. Satu persatu pasien masuk ke ruangan untuk diperiksa. Pasien yang baru tiba menunggu antrean di aula terbuka yang cukup luas. Deretan kursi diatur dengan jarak lebih satu meter.

Sepintas, tak ada yang istimewa dari klinik yang berada di Sukadana, Kayong Utara ini. Tampilan bangunan, misalnya, tak jauh beda dengan layanan kesehatan pada umumnya. Namun setelah ditilik lebih dalam, klinik ini menyimpan keunikan tersendiri. ”Klinik ini berbeda dibanding klinik lain,” ujar Jono Karno, 40, salah satu pasien di Klinik Asri.

BacaJuga:

Ancaman Fatal Osteoporosis: Patah Tulang Panggul dan Dampaknya pada Lansia

Debut Azka Corbuzier di New York Tuai Pujian, Film “Home, Almost” Bikin Penonton Menangis

Transformasi Layanan Berbuah Manis, BRI Sabet 36 Penghargaan di TBCCI 2026

Di antara keunikan itu, ungkap Jono, pasien seperti dirinya tak harus memiliki uang untuk berobat. ”Sepeser pun saya tak pernah mengeluarkan uang. Ada bibit saya pakai bibit, ada kompos saya pakai kompos,” kata warga Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara itu.

Klinik Asri ini memang punya cara unik melayani pasien berobat. Warga bisa membayar biaya berobat dengan menggunakan bibit pohon, kompos, kerajinan tangan atau bekerja di klink.

Pasien lain, Arbaiyah, juga mengaku pernah berobat dengan bayaran bibit pohon. Jenis pohon yang diserahkan adalah cempedak, mentawak, hingga durian. Warga Desa Pangkalan Jihing, Kayong Utara ini mengatakan, layanan ini sangat membantu dirinya sebagai ibu rumah tangga.
”Kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk berobat. Waktu itu saya menggunakan bibit untuk cabut gigi,” ujarnya memberikan testimoni.

Prasetyo, warga Sukadana, juga merasa terbantu dengan layanan yang diberikan Klinik Asri. ”Inilah sebetulnya yang bisa membantu masyarakat kita. Sekalipun tidak dengan uang, masyarakat berobat bisa dengan barang. Misalnya jika punya kerajinan, seperti tikar kita bisa antar ke sana. Bisa dengan atap, bambu, atau barang lain. Alhamdulillah, ini sangat membantu,” ujarnya.

Kalau tak punya barang-barang untuk membayar, jangan khawatir. Pasien atau keluarga pasien bisa membayar jasa kesehatan dengan cara bekerja di klinik. Tapi hasil kerja tak bisa dibayar dengan uang, hanya bisa ditukar dengan obat.

Direktur Eksekutif Yayasan Klinik Asri, Nur Febriani Wardi mengatakan, sejak berdiri pada 2007, Asri telah menerima lebih dari 90 ribu bibit pohon dari pasien. ”Pada 2020 saja terdapat 28.625 bibit pohon yang diserahkan pasien sebagai biaya berobat. Kebanyakan merupakan spesies pohon asli Kalimantan, seperti ulin, nyatoh, bengkirai, ubah, durian, dan lain-lain,” ujarnya.

Tabungan Bibit 
Bagi pasien seperti Jono Karno, keberadaan klinik Asri sangat membantu. Beberapa waktu lalu, Jono dirawat selama sepekan di klinik ini. ”Saya sakit pinggang tidak bisa bergerak. Lalu saya dirawat di Klinik Asri. Saya tidak membayar sama sekali karena ada tabungan di rumah,” kata Jono.

Tabungan yang dimaksud Jono bukanlah tabungan di bank, melainkan puluhan bibit pohon yang dipelihara di rumahnya. ”Inilah tabungan saya,” ujar Jono menunjukkan sejumlah bibit pohon kepada Pontianak Post saat menyambangi rumahnya usai dari Klinik Asri, bulan lalu.

Bibit pohon miliknya itulah yang digunakan untuk membayar biaya opname selama sepekan. ”Kalau tak ada bibit pohon, saya tak mampu bayar berobat. Saya tak punya uang,” ungkapnya.

Jono Karno adalah seorang mantan pembalak liar. Dia tinggal di sebuah dusun yang sangat indah. Pepohonan besar nan hijau memayungi dusun ini. Di ujung sana, perbukitan berpadu dengan persawahan menambah permai suasana. Dusun tempat Jono tinggal bernama Begasing. Tepatnya di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Jono sudah menjadi pembalak liar sejak usia belasan tahun pada 1990. Saat itu, dengan gergaji mesinnya, setiap hari dia mampu menumbangkan puluhan batang pohon. Sudah tak terhitung berapa ribu pohon yang telah dia tebang. Kini Jono mengaku insyaf. Dia sudah berhenti menebang. Sekarang dia justru aktif menanam pohon.

Jono menanam bibit di pekarangan rumahnya. Langkah itu ia lakukan apabila sewaktu-waktu nanti sakit, bibit pohon yang ditanamnya bisa menjadi biaya pembayaran saat berobat di Klinik Asri. Per bibit pohon dihargai dari Rp5.000 hingga Rp7.000. Jenis bibitnya bermacam-macam, mulai dari kayu keras seperti belian sampai buahan-buahan seperti durian.

Staf Klinik Asri biasanya datang ke rumah Jono untuk mencatat jumlah bibitnya. Jono akan menerima kartu berisi nilai rupiah tabungan Jono. Tabungan itu bisa dipakai saat nanti berobat ke Klinik Asri.

Tabungan bibit itu bisa digunakan oleh siapa pun yang bisa ingin berobat, misalnya anak, istri, keluarga atau tetangganya. ”Mereka bisa menggunakan tabungan bibit yang saya miliki,” tandasnya.

”Ada petugas dari klinik yang menghitung jumlah bibit yang saya punya. Bibit ini kemudian dicatat di sebuah kartu khusus. Jumlah tabungan uang yang dimiliki sesuai jumlah bibit pohon yang dimiliki. Kartu inilah yang bisa digunakan untuk berobat,” jelasnya.

Hingga kini ratusan bibit milik Jono yang sudah ditukar untuk berobat. Meski begitu, Jono masih memiliki tabungan berobat senilai Rp465 ribu. ”Kemarin saldonya sempat berkurang karena untuk berobat memeriksakan sakit pada bagian pinggang,” ujarnya.

Koordinator Program Reboisasi Klinik Asri, Hendriadi mengatakan, hasil kerja yang dilakukan pasien atau keluarga pasien dicatat dalam sebuah kartu, seperti tabungan. Jika sewaktu-waktu sakit, kartu ini bisa digunakan untuk berobat.
”Jadi di sini bermacam-macam yang bisa dikerjakan. Bisa mencuci seprai, cuci piring, jemur pakaian, atau potong rumput. Kalau di kebun bisa mengisi polybag atau bikin bedengan di penyemaian,” ujar Hendriadi yang akrab disapa Bang Hen.

Klinik Asri terletak di ibu kota Kabupaten Kayong Utara, Sukadana. Lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, di Kalimantan Barat. Untuk sampai ke sana, dari Pontianak bisa menggunakan jalur laut atau sungai. Lama perjalanan bervariasi, tergantung moda transportasi yang digunakan. Biasanya antara lima hingga sepuluh jam.

Histori Asri
Klinik ini didirikan oleh Kinari Webb, seorang dokter asal Amerika Serikat, 14 tahun lalu. Kinari mendirikan klinik karena melihat rendahnya tingkat kesehatan warga setempat. Kinari bercerita, belasan tahun lalu saat melakukan penelitian di hutan, dia memiliki kenalan warga lokal bernama Tadin.

Pada suatu hari, Tadin yang juga kerja di hutan itu terluka di tangan kanan. Lukanya sebenarnya tidak terlalu besar. ”Ya besar, tetapi tidak terlalu besar. Tapi Pak Tadin takut sekali,” ujarnya.

Tadin sebenarnya orang yang kuat dan berani. Tetapi dengan luka kecil itu, dia sudah takut sekali seperti mau mati. Sejak itu Kinari sadar, banyak warga yang tidak memiliki pengetahuan dan akses pada layanan kesehatan. Akibatnya, meski luka kecil, warga sudah begitu ketakutan.

”Pak Tadin belum pernah kena suntik tetanus. Tidak ada akses ke antibiotik saat itu. Dia tidak mengerti tentang kuman dan lain-lain. Dan itu tangan kanan yang digunakan untuk bekerja. Bila dia tidak bisa bekerja, keluarga tak bisa hidup,” ujarnya.

Peristiwa inilah yang membuat Kinari merasa perlu mendirikan sebuah pusat layanan kesehatan. Akhirnya, muncullah ide mendirikan Klinik Asri. Proses pendirian Klinik Asri sendiri tidaklah mudah.

Menurut Kinari, meski sudah punya ide, namun dia belum menemukan model yang tepat. Untuk itu, Kinari mencoba mencari konsep klinik yang diinginkan masyarakat. Caranya dengan mendatangi berbagai kampung untuk meminta pendapat warga mengenai klinik yang diinginkan. Kinari juga mengadakan banyak pertemuan dengan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung.

”Hampir semua ide program ini dari masyarakat. Bukan dari kami. Misalnya untuk kebun organik, itu bukan ide kami, tetapi ide masyarakat. Jadi mereka minta ada ambulans, kebun organik, dan pelatihan organik, Mereka juga minta klinik, rumah sakit dan klinik keliling,” ujar Kinari.

Kinari Webb mengatakan, pendirian klinik merupakan tanda terima kasih dunia bagi masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung yang telah menjaga hutan.

”Kami waktu itu jelaskan pada masyarakat begini, mungkin dunia siap mengucapkan terima kasih kepada masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung, yang sebenarnya penjaga kesehatan kita semua. Karena orang di sini, penjaga hutan, yang sangat penting bagi kesehatan dunia. Jadi banyak orang di Amerika sadar, bahwa mereka seperti berterima kasih bagi orang di sini,” ujarnya.

Klinik Asri juga memperluas layananan kesehatan dengan membuat program pengobatan keliling. Mereka mendatangi berbagai desa yang terpencil, terutama yang bertetangga dengan Taman Nasional Gunung Palung.

Malaria dan TBC adalah penyakit yang banyak ditemui di Sukadana. Dua penyakit ini sangat terkait dengan kondisi lingkungan. Malaria misalnya, banyak menyerang karena hutan sudah banyak ditebang. Hingga kini salah satu program yang terus dilakukan adalah pemberantasan malaria dan TBC. Untuk pemberantasan malaria, klinik melakukan pembagian kelambu kepada warga sekitar taman nasional.

Sementara untuk pemberantasan TBC, klinik sengaja menugaskan staf yang secara khusus mendatangi desa-desa untuk mengobati penderita TBC. Staf ini bahkan mengontrol hingga si penderita sembuh total.

Klinik Asri terletak di areal yang hijau, dekat kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Dari sini, pohon-pohon besar di perbukitan tampak menghijau. Kondisi inilah yang ingin dipertahankan oleh Kinari Webb, dengan mendirikan kliniknya.

”Klinik Asri adalah kombinasi antara kesehatan dan lingkungan. Filosofi kami, bahwa dunia tidak bisa sehat kalau manusia tidak sehat dan lingkungan juga tidak sehat. Jadi dua-duanya harus sehat supaya masa depan sehat untuk kita semua. Jadi kami pikir hanya solusi yang mengombinasikan kedua-duanya bisa selamatkan kita untuk masa depan. Jadi selamatkan hutan juga selamatkan manusia,” ujar Kinari.

Bibit tanaman yang dikumpulkan dari para pasien digunakan untuk melakukan reboisasi di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Pembayaran dengan bibit, kompos atau kotoran ternak sangat bermanfaat bagi upaya melestarikan hutan.

Ini semakin menguatkan hubungan sebab akibat antara kesehatan dengan kelestarian hutan. Banyak warga menebang hutan karena tak punya sumber pendapatan lain. Sementara ketika mereka sakit, mereka harus menebang lebih banyak lagi pohon, demi mendapatkan uang untuk berobat.

Karena itulah, potongan biaya berobat diberlakukan di klinik ini supaya warga tak perlu lagi menebang hutan. ”Kami pasti bisa mengerti itu ya. Walaupun mereka tahu bahwa hutan sangat penting bagi masa depan, tetapi kalau anak mereka sakit, pasti (mereka) akan merusak hutan karena tak punya penghasilan lain. Jadi, kami pikir hanya solusi yang kombinasi kedua-duanya bisa selamatkan kita untuk masa depan. Berarti selamatkan hutan dan selamatkan manusia,” ujarnya.

Rujukan Dunia
Direktur Eksekutif Yayasan Klinik Asri, Nur Febriani Wardi menjelaskan, saat ini program-program Asri telah berkembang luas, mencakup pelayanan kesehatan, konservasi, dan pendidikan kesehatan planetari. Asri menjadi salah satu rujukan dunia terkait integrasi kesehatan dengan konservasi hutan.

Pada 2020, Asri mendapatkan penghargaan dari PBB sebagai pemenang Global Climate Action Award pada kategori Women for Results. Asri juga telah mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 2016.

Pasien membayar dengan barang, sementara obat harus dibeli dengan uang. Begitu pula berbagai peralatan kesehatan lainnya. Lantas, dari mana uang untuk membiayai semua operasional klinik didapat? Nur Febrina Wardi mengatakan, sebagian besar biaya kegiatan operasional mereka berasal dari hibah masyarakat dunia dan lembaga internasional.

Saat ini Asri juga sudah mulai mendapatkan dukungan masyarakat Indonesia melalui donasi dan adopsi bibit pohon. ”Untuk adopsi bibit pohon, publik dapat melakukannya dengan mudah di website Asri,” jelasnya.

Banyak perubahan yang terjadi selama 14 tahun Klinik Asri berdiri. Nur Febrina mengatakan, kini pasien mereka banyak yang telah menyadari pentingnya menjaga hutan bagi kesehatan. Perkembangan juga terlihat dari data hasil survei rumah tangga Asri yang membandingkan antara 2007 di mana Asri baru saja memulai kegiatan, dan sepuluh tahun kemudian yaitu pada 2017.

”Kami melihat 67 persen penurunan angka kematian bayi, dan 89 persen penurunan jumlah rumah tangga yang melakukan penebangan. Angka kesakitan seperti demam, diare, dan batuk lebih dari tiga minggu juga menunjukkan tren menurun,” katanya. Masyarakat di Kayong Utara juga kini jauh lebih sadar bahwa bila mereka masih ingin mendapatkan air di masa mendatang maka mereka harus menjaga hutan. Di sisi lain, liputan ini diproduksi atas dukungan dari Dana Jurnalisme Hutan Hujan (Rainforest Journalism Fund) yang bekerja sama dengan Pulitzer Center. (heriyanto/aro)

Tags: Hutanklinik kesehatanpohon

Berita Terkait.

siloam
Gaya Hidup

Ancaman Fatal Osteoporosis: Patah Tulang Panggul dan Dampaknya pada Lansia

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:25
Koperasi Tak Cukup Bertahan, Metranet Dorong Layanan Lebih Modern Lewat KoperasiGO
Gaya Hidup

Debut Azka Corbuzier di New York Tuai Pujian, Film “Home, Almost” Bikin Penonton Menangis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:06
Transformasi Layanan Berbuah Manis, BRI Sabet 36 Penghargaan di TBCCI 2026
Gaya Hidup

Transformasi Layanan Berbuah Manis, BRI Sabet 36 Penghargaan di TBCCI 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:02
Rayakan 39 Tahun, Swiss-Belresidences Kalibata Tebar Kepedulian Bersama Anak-Anak Sahabat Anak Cijantung
Gaya Hidup

Di Balik Deru Motor MotoGP Mandalika, Ratusan Relawan BRI Peduli Bergerak Jaga Kebersihan Lingkungan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:07
Rayakan 39 Tahun, Swiss-Belresidences Kalibata Tebar Kepedulian Bersama Anak-Anak Sahabat Anak Cijantung
Gaya Hidup

Rayakan 39 Tahun, Swiss-Belresidences Kalibata Tebar Kepedulian Bersama Anak-Anak Sahabat Anak Cijantung

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:57
swiss
Gaya Hidup

Swiss-Belresidences Kalibata Hadirkan Wedding Showcase 2026, Tawarkan Inspirasi Pernikahan dalam Satu Tempat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:28

OLAHRAGA

Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo
Olahraga

Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:31

INDOPOSCO.ID - Persaingan Super League 2026/2027 kembali memanas pada pertengahan pekan ini. Sebanyak delapan pertandingan dengan tiga laga menarik diantaranya...

SelengkapnyaDetails
Jadwal Liga Champions: PSG-Barca Saling Jegal, Arsenal Uji Kekuatan Bayern

Jadwal Liga Champions: PSG-Barca Saling Jegal, Arsenal Uji Kekuatan Bayern

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:40
bultang

Usai Juara Denmark Open 2026, Fikri Ungkap Pelajaran Berharga dari Pengalaman Fajar

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:48
Sabet Gelar Denmark Open 2026 Usai Libas Aaron/Soh, Fajar Ungkap Kunci Kemenangan

Sabet Gelar Denmark Open 2026 Usai Libas Aaron/Soh, Fajar Ungkap Kunci Kemenangan

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:06
Zaskia Putri Salurante

Zaskia Salurante Ukir Prestasi di Polandia, FORKI Soroti Pentingnya Jam Terbang Internasional

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:24

BERITA POPULER

  • Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    2633 shares
    Share 1053 Tweet 658
  • Usai Gempa M4,1 Guncang Bogor, Getaran Susulan hingga Malam

    1391 shares
    Share 556 Tweet 348
  • Kunci Wirausaha Kuat, Ekonomi Melesat Perpres No. 38 Tahun 202

    1266 shares
    Share 506 Tweet 317
  • IWBIF 2026 Digelar di Jakarta, IWAPI Dorong Pengusaha Perempuan Indonesia Go Global

    1154 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Debut Azka Corbuzier di New York Tuai Pujian, Film “Home, Almost” Bikin Penonton Menangis

    1096 shares
    Share 438 Tweet 274
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.