Nusantara

Konsep Dusun Hijau dan Merah Ala Klinik Asri di Kalbar

INDOPOSCO.ID – Desa Sedahan Jaya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar) tampak indah sekali. Pohon-pohon besar terlihat menghijau di perbukitan desa. Tiupan angin menerobos dari balik bukit yang dipenuhi hutan yang lebat. Kicauan burung terdengar di mana-mana.

Belasan tahun lalu, pembalakan liar banyak ditemukan di desa ini. Mayoritas warga bekerja sebagai penebang pohon. Sebagian besar kepala rumah tangga memiliki gergaji mesin. Itulah aset terpenting warga saat itu. Kayu-kayu bernilai tinggi menjadi incaran. Hutan adalah sumber pendapatan utama mereka.

Kini, Desa Sedahan Jaya telah menjelma menjadi desa yang hijau. Pembalakan liar sudah jauh berkurang. Tutupan hutan kembali terjaga.

Klinik Asri, Kabupaten Kayong Utara memberi penghargaan kepada masyarakat yang berhasil menjaga hutannya. Penghargaan itu berupa diskon biaya berobat hingga 70 persen bagi warga yang dusunnya mendapat predikat hijau, sedangkan dusun merah hanya 30 persen.

Klinik ini memang punya cara unik melayani pasien berobat. Warga bisa membayar biaya berobat dengan menggunakan bibit pohon, kompos, kerajinan tangan atau bekerja di klink.

Pagi itu, Hendriadi, koordinator Program Reboisasi Klinik Asri sudah menunggu di klinik. Pria yang cekatan dan murah senyum tersebut berjanji mempertemukan dengan warga desa yang dulunya bekerja sebagai pembalak liar. ”Kenalkan ini Pak Junaidi. Beliau ini dulunya, sejak muda sudah bekerja sebagai logger (penebang pohon, red),” kata Hendriadi.

Sang tuan rumah yang diperkenalkan pun menyambut dengan ramah dan mempersilakan masuk ke rumahnya. Junaidi lantas bercerita mengenai pengalaman hidupnya selama menjadi penebang kayu.

Pria 43 tahun itu mengaku sudah menjadi penebang liar sejak 2005. Sulitnya mencari pekerjaan di masa itu, menjadi alasannya melakukan aktivitas ilegal tersebut. ”Menjadi logger itu sebenarnya bukan pekerjaan yang baik, tapi karena tidak ada pilihan lain, jadi saya lakoni,” ujarnya.

Mayoritas warga di desanya memiliki pekerjaan yang serupa. Pekerjaan itu diwariskan dari orang tua mereka. Anak-anak yang mulai beranjak remaja juga sudah mulai dikenalkan cara menggunakan gergaji mesin. Kelak setelah dewasa mereka akan mengikuti jejak orang tuanya.

Meski menebang di sekitaran desanya saja, namun aktivitasnya itu terlarang karena berada di kawasan taman nasional. Permintaan yang besar terhadap kayu membuat aktivitas tersebut sulit dihentikan. Kayu-kayu olahan dijual pada para penampung, untuk selanjutnya dijual kembali pada konsumen. ”Saya menjadi penebang kayu hingga 2018. Kalau dihitung ya sekitar 13 tahun. Setelah itu saya berhenti,” ungkapnya.

Seorang tetangganya, Jono Karno, kerap merayunya agar berhenti menebang kayu. “Pak Jono bilang, hutan itu adalah warisan untuk anak cucu. Kalau hutan habis, kasihan anak cucu nanti,” kata Junaidi.

Jono Karno yang dimaksud Junaidi adalah tetangganya yang kini direkrut Klinik Asri menjadi sahabat hutan. Tugasnya adalah mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Sejak itulah Junaidi mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai penebang liar. Kini ia membangun usaha toko kelontong tepat di depan rumahnya. Meski keuntungan dari usaha tersebut tak seberapa besar, hal itu dirasa lebih baik ketimbang menjadi penebang pohon yang merusak hutan.

Untuk menambah penghasilan Junaidi menyambi bertanam padi dan aktivitas lain. Kondisinya itu sudah ia syukuri daripada harus menjadi penebang liar lagi. Rasa bersalah atas aktivitas ilegalnya di masa lalu masih melekat hinggi kini.

Baik Jono maupun Junaidi sekarang aktif menjadi relawan. Mereka yang mantan pembalak liar itu justru giat menanam pohon. Sudah ribuan bibit yang mereka tanam di kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Kini Dusun Begasing tempat Jono dan Junaidi tinggal mendapat predikat ‘Dusun Kuning’ dari Klinik Asri. Artinya, desa ini relatif berhasil melestarikan hutan. Meski masih ada warga yang bekerja sebagai pembalak liar, pembabatan hutan sudah jauh berkurang dibanding beberapa tahun sebelumnya.

”Butuh waktu dua tahun bagi Dusun Begasing untuk dapat predikat kuning. Sebelumnya, dusun ini berpredikat merah,” ujar Agus Supiyanto, koordinator Monitoring dan Sahabat Hutan, Klinik Asri.

Dia mengatakan, Klinik Asri menawarkan diskon atau potongan biaya perawatan kesehatan kepada desa yang berhasil mengurangi kegiatan penebangan liar, termasuk Desa Sedahan Jaya. Penilaian itu berdasarkan hasil pemantauan tiga kali per tahun.

Jika desa tersebut berada pada penilaian tertinggi, berwarna hijau, maka akan mendapatkan potongan sebesar 70 persen. Jika berwarna kuning memperoleh potongan 50 persen. Dan untuk tingkat terendah, berwarna merah, mendapat potongan 30 persen.

”Kalau dusun hijau syarat-syaratnya, dusun itu berbatasan langsung dengan taman nasional. Kedua, mereka bekerja sama dengan Klinik Asri. Desanya tidak ada pengolahan kayu, tidak ada saw mill di situ. Tidak ada juga jalan akses logging menuju ke taman nasional. Kemudian masyarakatnya pro-aktif menjaga hutan. Karena selama ini yang banyak merusak daerah mereka itu orang luar bukan dari daerah mereka sendiri,” kata Agus.

Predikat ‘desa hijau’ adalah hasil pendekatan Klinik Asri kepada masyarakat di desa-desa sekitar kawasan taman nasional. Masyarakat terus diberi penyadaran supaya tak menebang pohon. Desa yang berhasil, dicatat. Begitu juga yang gagal. Data inilah yang kelak jadi bahan penentuan kriteria desa.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button