Kelompok Marjinal Didorong Bangkit dari Tekanan Dampak Pandemi

INDOPOSCO.ID – Human Immunodeficiency Virus (HIV) diestimasi masukan telah merambah sekitar 543 ribu orang di Indonesia. Secara epidemi, ribuan orang ini terkonsentrasi di empat kelompok populasi kunci, yakni laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender perempuan, pekerja seks dan pengguna narkotika suntik.
Human Rights and Gender Advisor United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) Indonesia, Yasmin Purba mengatakan, catatan UNAIDS, program gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penanggulangan epidemi AIDS, empat kelompok populasi kunci ini termasuk golongan yang sangat terdiskriminasi di Indonesia. Dalam konteks pendidikan, misalnya. Seorang transgender perempuan seringkali mengalami bullying, bahkan sejak di sekolah dasar.
“Situasi ini mendemotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Nah begitu juga dengan populasi kunci lainnya. Bentuk-bentuk diskriminasi itu membuat pendidikan menjadi tidak aksesibel bagi mereka,” kata Yasmin saat menjadi pembicara dalam briefing pers PBB di Indonesia, ‘Upaya Pemulihan Covid-19 melalui Respon Sosial dan Ekonomi’, Jumat (15/10/2021).
Ketika tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kelompok ini tentu akan sulit mengakses pekerjaan layak. Sehingga banyak sekali yang bekerja di sektor-sektor non-formal atau bekerja di sektor precarious job, misalkan pekerja seks atau pengamen di jalan. Jadi, tidak ada kepastian kerja dan tidak ada kepastian income.
Ditambah lagi ketika pandemi Covid-19 melanda, berbagai pembatasan aktivitas dan sosial membuat hidup kelompok yang termarjinalkan semakin berat.
“Betul-betul terasa sekali, kalau kita melihat dari beberapa penemuan, misalnya dari Jaringan Indonesia Positif yang melakukan survei terhadap lebih dari 1.000 orang HIV, menunjukkan ada sekitar 46 persen responden di awal pandemi Covid-19 2020 yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan, 44 persen kehilangan pendapatan dan 19 persen tidak mampu membayar sewa tempat tinggal,” papar Yasmin.
Pada titik inilah UNAIDS mengambil peran, untuk memastikan tidak ada kelompok yang ditinggalkan. Dalam konteks program bersama Multi-Partner Trust Fund (MPTF), UNAIDS Indonesia berupaya menjembatani kesenjangan bagi orang-orang dengan HIV dan populasi kunci, agar dapat terlindungi dari efek ekonomi sosial akibat pandemi.
“Kami bekerjasama dengan ILO (International Labour Organization) dan UNDP (United Nations Development Programme/jaringan pembangunan global PBB), telah mengidentifikasi individu-individu yang terdampak pandemi untuk mengikuti pelatihan skill membangun kewirausahaan. Intinya memberikan bekal kepada mereka untuk dapat bangkit dari dampak Covid-19 ini,” ujarnya.
Tapi UNAIDS juga menyadari, akar masalah dari peliknya situasi yang dihadapi kelompok marjinal adalah tindakan diskriminatif dari orang-orang di sekitar mereka. Oleh karena itu UNAIDS bekerja sama dengan Yayasan Kusuma Buana, mengembangkan platform kebijakan online agar orang-orang dapat lebih memahami apa itu inklusivisme, khususnya terhadap pengidap HIV dan populasi kunci. (arm)