Tak Perlu Antre Pendaftaran, Masih Trauma Usai Terpapar Covid-19

INDOPOSCO.ID – Sutiyo kini mulai pulih kembali. Ia terlihat membantu istrinya beres-beres rumah. “Mah, aku pel lantai ya habis ini,” teriak Tio panggilan sehari-hari Sutiyo kepada istrinya yang tengah memasak di dapur.
Pria genap berusia 57 tahun ini sebelumnya harus menjalani perawatan dokter karena didiagnosa sakit paru-paru. Ayah satu anak ini pun masih rutin melakukan kontrol ke rumah sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.
“Suaminya waktu itu dirawat di Rumah Sakit Haji puasa Ramadan 2021 lalu. Sekarang hanya tinggal kontrol bolak balik ke RS Polri dan Alhamdulillah gratis berkat BPJS Kesehatan,” kata Supriyatun istri Tio kepada INDOPOSCO.ID, Senin (30/8/2021).
Entun sapaan sehari-hari Supriyatun mengaku sangat terbantu dengan proses pendaftaran secara online untuk berobat jalan. Apalagi di tengah pandemi saat ini. “Biasanya yang daftarin anak sih. Besok tinggal berangkat dan tidak harus nunggu lama di fasilitas kesehatan,” terangnya.
“Kalau dulu kan kita harus antre mendaftar untuk dapat nomor di poli. Di pendaftaran saja kalau siang nomor antrean bisa panjang,” imbuh Entun sembari menghela nafas.
Entun mengatakan, suaminya baru saja selesai menjalani isolasi mandiri (Isoman). Dari hasil swab tes PCR, menurut dia, Tio dinyatakan positif terpapar Covid-19 dua kali.
“Ini baru selesai Isoman yang kedua. Alhamdulillah 2 kali PCR hasilnya sudah negatif. Takutlah kalau kena Covid-19 lagi. Beruntung tidak antre di pendaftaran berobat jalan, masih parno sama Covid-19,” ungkapnya.
Entun mengaku bersyukur bisa berkumpul kembali dengan suami dan anaknya. Bagi dia kesehatan suaminya saat ini bagaikan anugerah yang tak ternilai. Karena, menurutnya, suaminya saat ini menjalani hidup kedua pascaoperasi jantung 2016 lalu.
“Sekarang banyak bersyukur aja, meskipun sudah tidak bekerja. Makan masih bisa kita cari, alhmadulillah saya berjualan online. Ya cukup enggak cukuplah buat kebutuhan sehari-hari,” terangnya.
“Anak kemarin sempat bekerja, tapi habis kontrak. Perusahaan bapaknya juga masih belum mau terima, jadi buat istirahat dululah,” imbuhnya.
Lebih jauh Entun mengungkapkan, suaminya menjalani operasi jantung di rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Suaminya harus menjalani operasi bypass jantung tahun 2016 lalu.
Menurut dia, operasi bypass jantung harus dilakukan setelah menjalani perawatan jalan di rumah sakit Haji, Jakarta Timur. “Alhamdulillah kita sangat terbantu dengan BPJS Kesehatan. Waktu itu mengetahui akan di bypass, saya langsung mendaftar BPJS Kesehatan. Hanya hitungan hari kartu digunakan, karena pendaftaran secara online jadi cepat selesai dan tidak ribet,” ungkapnya.
“Dokter di rumah sakit Haji sempat bilang, untung bapaknya tidak telat. Kalau terlambat, kata mereka kemungkinan bisa terjadi serangan jantung,” imbuhnya.
Saat awal pemeriksaan kesehatan di rumah sakit Haji, dikatakan Entun, biayanya harus meroggoh kantong sangat dalam. Satu kali pemeriksaan saja biayanya bisa jutaan rupiah.
“Sekali kontrol obatnya jutaan, waktu itu keluhannya sempat sembuh. Tapi kambuh lagi dan harus dapat tindakan operasi bypass jantung,” katanya.
“Pas keluhan tidak dirasakan lagi, bapaknya terus berangkat di Qatar, karena di sana minum manis-manis jadi kambuh dan sakit lagi. Ya terus berobat jalan lagi di RS Haji itu,” imbuhnya.
Pada akhir perbincangan Entun masih teringat dengan petugas BPJS Kesehatan di RS Haji. Biaya operasi bypass jantung nanti gratis, tapi harus mendaftar kepesertaan BPJS Kesehatan. “Ini (operasi) nanti gratis, jadi langsung daftar menjadi peserta bpjs Kesehatan mandiri. Beruntung pendaftaran secara online, kartu bisa langsung digunakan untuk rujukan ke RS Harapan Kita dan tindakan operasi bypass jantung langsung dilakukan,” pungkasnya. (nas)