Megapolitan

Ketika DKI Dihantam Gelombang Covid-19 yang Naik dan Turun

INDOPOSCO.ID – Sejak virus Corona diumumkan secara resmi telah ada di Indonesia pada 2 Maret 2020, seketika itu publik mulai dihantui ketakutan dan kecemasan. Ketika itu diumumkan adanya dua warga yang dinyatakan terinfeksi virus tersebut. Kepastian diperoleh berdasarkan hasil laboratorium.

Keduanya adalah perempuan warga Depok, Jawa Barat (Jabar) yang sedang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara. Keduanya berhasil sembuh setelah dirawat intensif beberapa hari. Tetapi kecemasan dan rasa takut tak surut karena telah terjadi penularan yang cepat; dari asisten rumah tangga, sejumlah warga di Ibu Kota hingga tenaga kesehatan (nakes).

Hari demi hari, Covid-19 semakin tak terkendali. Metropolitan ini pun menjadi kota yang mengerikan karena jumlah warga yang terinfeksi terus bertambah. Pembatasan aktivitas publik untuk mengerem dan memutus rantai penularannya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dilakukan sejak 14 Maret 2020. Sarana dan prasarana serta tenaga kesehatan disiapkan lebih banyak lagi untuk mengantisipasi kecenderungan pertambahan kasus setiap hari.

Sejak saat itu mulai terasa tidak nyamannya kehidupan. Ketakutan dan kecemasan bercampuraduk dengan pembatasan aktivitas publik. Terganggunya perekonomian tentu dirasakan masyarakat. Wabah inipun membenturkan perekonomian dan kesehatan.

Terlihat dari Grafik

Inti perdebatan dan kontroversinya ada pada substansi mana yang harus didahulukan antara perekonomian dan kesehatan. Memprioritaskan kesehatan tetapi perekonomian makin terganggu atau mementingkan perekonomian yang akibatnya wabah semakin menelan korban.

Perdebatan dan pertarungan itu bahkan mengemuka hingga 1,5 tahun wabah hingga hari-hari ini. Pembatasan dengan instrumen Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah beberapa periode.

DKI berada pada inti kebijakan pengendalian, bukan saja karena tingginya angka kasus baru setiap hari sejak awal, tetapi juga karena tingginya pertambahan kasus selalu menempatkannya berada di urutan teratas. Metropolitan ini selalu menjadi pusat (episentrum) wabah.

Seluruh daya dan upaya dikerahkan untuk mengatasi wabah. Berjibaku dalam kolaborasi, semua pihak telah menunjukkan kerja kerasnya. Hasilnya terlihat dari grafik dan kurva perkembangan wabah ini. Tren kasus baru yang diumumkan setiap hari umumnya selalu naik.

Tetapi bila dilihat dari awal, upaya keras pernah menunjukkan hasil cukup menggembirakan, yakni pernah turun dan landai, namun naik dan melonjak lagi. Pertambahan dan penurunan jumlah penurunan seperti gelombang; datang dan pergi. Ketika gelombang turun, aktivitas publik dilonggarkan, lalu diperketat lagi saat terjadi kenaikan kasus.

Begitulah drama kehidupan di tengah wabah virus ini. Irama kehidupan disesuaikan dengan gelombang perkembangan jumlah kasus baru yang kadang naik dan kadang turun.

Beragam Kisah

Sejak Juni lalu, DKI menghadapi lonjakan kasus baru. Antisipasinya selain penyiapan fasilitas kesehatan (faskes) juga kesiapan rumah sakit. Dari sisi faskes, sebenarnya sudah cukup banyak, yakni sebanyak 140 rumah sakut rujukan pasien Covid-19. Tetapi lonjakan kasus telah memaksa manajemen sebagian rumah sakit mengambil langkah darurat.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button