Ekonomi

Antisipasi Instabilitas, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Rendah

INDOPOSCO.ID – Pengamat ekonomi Universitas Jember Ciplis Gema Qori’ah mengharapkan Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga rendah agar tidak memunculkan risiko instabilitas apabila perekonomian domestik masih belum benar-benar pulih.

“Perekonomian global saat ini menunjukkan gejala yang kian tidak stabil dan fenomena tersebut ditandai dengan lonjakan kenaikan harga secara umum (inflasi),” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis.

Menurut dia, kondisi global itu memantik Bank Sentral di berbagai belahan dunia untuk menerapkan kebijakan pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga, termasuk India, Filipina, India dan Korea Selatan.

Di Amerika Serikat, lanjut dia, Bank Sentral AS (The Fed) telah menaikkan suku bunga pertama kali sejak tahun 2018, pada Maret 2022 dan rencananya secara bertahap suku bunga akan naik untuk menjaga perekonomian dari lonjakan inflasi.

Namun, suku bunga di Indonesia sejak Februari 2021 hingga Mei 2022 tidak mengalami perubahan yaitu berada pada kisaran 3,50 persen dan kebijakan moneter di Indonesia tampak bersifat netral seperti yang diterapkan oleh Jepang, Jerman, China dan Thailand.

“Dampak atas kebijakan itu tentunya akan menuai berbagai macam kritik karena kenaikan suku bunga The Fed dapat berisiko menimbulkan capital outflow serta mengancam stabilitas nilai tukar rupiah,” tuturnya.

Meski demikian, ia menilai risiko tersebut dapat diantisipasi dengan angka pertumbuhan ekonomi yang jauh dari kondisi resesi (pro growth), inflasi domestik terkendali serta ketahanan sektor eksternal di Indonesia tetap terjaga dengan baik.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button