INDOPOSCO.ID – Pendakwah jangan sampai menjadikan bayaran ceramah hingga gurauan mencari istri keempat sebagai bahan utama saat menyampaikan pesan agama. Selain tidak pantas, perilaku tersebut dinilai bisa mencederai kehormatan dakwah Islam.
Pesan tegas itu disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. M. Cholil Nafis dalam keterangan, Sabtu (7/11/2026). Ia mengingatkan, seorang dai harus menjaga adab dan etika ketika menyampaikan risalah Islam kepada masyarakat.
“Dakwah semestinya berorientasi pada ketulusan menyebarkan kebaikan, bukan justru menjadikan mimbar sebagai ajang mencari keuntungan pribadi atau popularitas,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan bayaran ceramah memang memiliki aturan dan etika tersendiri. Namun, seorang pendakwah tidak sepatutnya menjadikan urusan honor sebagai bahan pembicaraan utama di hadapan jamaah. Terlebih jika diselingi candaan yang tidak mencerminkan kehormatan seorang dai.
“Maka kalau ceramah jangan soal berapa bayarannya, itu ada etikanya. Apalagi ceramah hanya untuk mencari istri keempat. Itu enggak baik gitu, meskipun bercanda itu ya enggak baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, dai yang telah mengikuti pembinaan dan dinyatakan lulus standardisasi MUI semestinya memiliki pedoman perilaku yang jelas. Karena itu, materi ceramah maupun candaan yang berpotensi merendahkan marwah dakwah harus dihindari.
Menurutnya, kemampuan seorang dai tidak cukup hanya diukur dari kepiawaian berbicara di depan publik, tetapi juga dari akhlak dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Dia menjelaskan, program Standardisasi Dai yang digagas MUI memiliki misi lebih besar daripada sekadar meningkatkan kemampuan komunikasi para pendakwah. Program tersebut juga menjadi upaya membentengi umat dari pemahaman keagamaan yang menyimpang sekaligus menjaga kualitas moral para dai.
Ia juga mengingatkan agar pendakwah tidak terjebak pada gaya ceramah sensasional dengan membanggakan capaian pribadi. Misalnya, mengumbar jumlah orang yang berhasil diislamkan atau mengklaim banyak orang telah berubah setelah mendengarkan ceramahnya.
“Saya tidak perlu menyampaikan sudah mengislamkan berapa orang atau sudah menginsafkan berapa orang, tapi dakwah seperti itu tidak benar. Itu saja,” ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan dakwah tidak semestinya diukur melalui pengakuan atau klaim pribadi seorang pendakwah. Substansi ajaran, ketulusan, serta dampak positif yang ditimbulkan bagi kehidupan masyarakat jauh lebih penting untuk dikedepankan.
Ia mengajak para dai untuk membangun budaya saling menasihati dengan cara yang santun dan mengedepankan prinsip Islam wasathiyah atau moderat. Dakwah harus menjadi sarana memperkuat persaudaraan, bukan justru memunculkan kegaduhan atau hal-hal yang mencederai kehormatan agama.(nas)



















