INDOPOSCO.ID – Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa menyoroti momentum Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memperlihatkan ijazahnya di ruang sidang. Dia menduga, keputusan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan perkara tuduhan ijazah palsu, tetapi juga memiliki kaitan dengan situasi politik yang tengah berkembang.
Hensa secara khusus menghubungkan kemunculan ijazah Jokowi dengan terbongkarnya dugaan kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Jokowi diketahui hadir sebagai saksi dalam persidangan perkara tuduhan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo dan kawan-kawan pada Kamis (5/11/2026). Dalam persidangan itu, Jokowi memperlihatkan ijazahnya secara terbuka. Namun, tindakan tersebut langsung menuai protes dari Refly Harun karena dinilai dilakukan tanpa izin majelis hakim.
Hensa tidak mempermasalahkan kehadiran Jokowi yang memang telah dijadwalkan sebagai saksi. Hal yang membuatnya heran justru keputusan Jokowi memperlihatkan ijazah secara langsung di hadapan publik.
“Dia memang menjadwalkan datang, itu saya enggak bantah. Tapi tadinya saya yakin dia enggak akan menunjukkan ijazahnya secara gamblang seperti itu,” kata Hensa dalam podcast di kanal YouTube-nya, Hendri Satrio Official, dikutip pada Jumat (6/11/2026).
Menurut Hensa, ada pertanyaan lebih besar yang perlu dijawab dari peristiwa tersebut. Dia mempertanyakan alasan Jokowi memilih memperlihatkan ijazah ketika isu penyadapan terhadap Prabowo sedang menjadi perhatian.
“Jadi pertanyaannya bukan soal 5 November. Pertanyaannya, kenapa Pak Jokowi menunjukkan ijazahnya berdekatan dengan terbongkarnya kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo,” lanjutnya.
Hensa kemudian mengemukakan dugaan bahwa langkah Jokowi tersebut bisa menjadi cara mengalihkan perhatian publik. Sebab, apabila isu penyadapan terus berkembang, Jokowi berpotensi menjadi sasaran pertanyaan wartawan.
Terlebih, salah satu nama yang mencuat dalam pemberitaan mengenai kasus penyadapan adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Nama tersebut, menurut Hensa, selama ini dipersepsikan publik memiliki kedekatan dengan Jokowi.
Kondisi itu dinilai dapat membuat Jokowi berada dalam posisi yang tidak nyaman setiap kali berhadapan dengan awak media.
“Ini analisa saya ya, ini cara dia menghindari pertanyaan wartawan soal kasus penyadapan. Daripada orang ketemu dia nanyain penyadapan, nanyain kecurigaan keterlibatan, mendingan dia keluarkan isu lain. Apa itu? (Ya) Ijazah,” tutur Hensa.
Hensa menilai isu ijazah merupakan persoalan yang lebih mudah bagi Jokowi untuk dijelaskan. Isu tersebut sudah berlangsung lama sehingga Jokowi dianggap telah menguasai berbagai jawaban yang diperlukan.
“Kalau ditanya ijazah, dia lebih enak menjelaskan. Ijazah saya kan sudah saya tunjukkan. Daripada ditanya, ‘Pak, gimana itu penyadapan?’ Lagi pusing dia,” ungkapnya.
Dengan demikian, menurut Hensa, kemunculan isu ijazah bisa membuat perhatian publik kembali tertuju pada polemik lama, sementara persoalan penyadapan berpotensi tidak lagi menjadi pertanyaan utama kepada Jokowi.
Meski demikian, Hensa menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan analisis pribadi. Dia tidak mengklaim memiliki bukti yang memastikan adanya strategi pengalihan isu di balik tindakan Jokowi.
“Namanya juga analisis. Kita rakyat enggak punya alat sadap, adanya pulpen,” tambahnya. (her)



















