INDOPOSCO.ID – Dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum krusial dalam mempertegas reorientasi peta jalan industri pertambangan nasional. Indonesia secara konsisten mentransformasi struktur ekonominya dari pengekspor komoditas mentah menjadi negara industri berbasis nilai tambah yang berdaya saing global.
Langkah strategis melalui hilirisasi mineral dan batu bara ini merupakan pengejawantahan nyata amanat Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Pemerintah berkomitmen memastikan seluruh kekayaan sumber daya alam dikelola secara mandiri demi mengalirkan manfaat ekonomi sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia.
Selama ini, ekspor mentah komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga batu bara memang menyumbang penerimaan negara, namun nilai tambah utama serta penguasaan teknologi justru dinikmati negara lain. Melalui kebijakan hilirisasi, potensi rantai pasok dan multiefek ekonomi kini ditahan penuh di dalam negeri.
Sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID memegang peran sentral dalam membangun ekosistem industri terintegrasi mulai dari penambangan, pemurnian, hingga manufaktur produk turunan. Integrasi ini terwujud lewat kawasan ekosistem bauksit di Kalimantan Barat, pemurnian tembaga dan logam mulia di Gresik, hingga rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) di Maluku dan Karawang.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menegaskan komitmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang tersebut untuk mengawal integrasi dari hulu ke hilir secara berkelanjutan.
“Dengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” katanya.
Penguatan industri pertambangan ini berjelajah sejajar dengan agenda investasi lintas sektor yang melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Program tersebut mencakup 26 proyek strategis senilai Rp225 triliun yang diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja lokal.
Tren realisasi investasi di sektor hilirisasi mencatatkan lonjakan signifikan. Dari angka Rp407,6 triliun pada 2024, nilai investasi melesat menjadi Rp584,1 triliun pada 2025, dan telah menembus Rp300,1 triliun hingga semester I-2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani menuturkan bahwa pengelolaan aset strategis negara ini menjadi katalisator utama lompatan transformasi ekonomi nasional.
“Kami akan melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya, unggul dalam produksinya, dan sejahtera dalam hasilnya,” ujarnya.
Peningkatan nilai ekonomi melalui pengganda (multiplier effect) produk turunan sangat menjanjikan. Komoditas bauksit yang diolah menjadi kawat aluminium mampu melonjakkan nilai tambah hingga 90 kali lipat. Sementara nikel yang diolah menjadi baterai EV melonjak hingga 45 kali lipat, serta pengolahan tembaga menjadi kawat tembaga memberi nilai tambah 25 kali lipat. (adv)

















