INDOPOSCO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut memburuknya kualitas udara di DKI Jakarta beberapa hari terakhir bukan disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan emisi kendaraan bermotor.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki menyatakan, bahwa kualitas udara di Jakarta terus memburuk sejak pertengahan tahun 2026.
“Terkait kondisi udara di Jakarta hari ini, konsentrasi PM2.5 di Jakarta sudah meningkat sejak Juni 2026, sebelum terjadi kebakaran hutan dan lahan (akibat pengaruh El Nino),” kata Marjuki dalam keterangannya, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Kualitas udara di Jakarta saat ini sangat berbeda dengan Jambi, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan. Di wilayah tersebut, paparan polusi melonjak drastis hingga 10 kali lipat akibat dampak langsung asap karhutla.
Menurutnya, kualitas udara di Jakarta pada awal Oktober 2026 mencatatkan konsentrasi PM2,5 di angka sekitar 48 mikrogram per meter kubik. Pola tersebut dinilai serupa dengan tahun sebelumnya dan dipicu oleh emisi kendaraan bermotor.
“Penyebab utama peningkatan konsentrasi PM2.5 Jakarta adalah kendaraan, industri, dan pembakaran sampah kering yang menumpuk pada skala lokal,” ungkap Marjuki.
Terlebih, fenomena El Nino turut memperparah kondisi tersebut dengan membuat polutan terperangkap dan mencemari udara Jakarta.
“Musim kemarau dan El Nino yang sedang berlangsung memperburuk kondisi kualitas udara karena hujan yang berfungsi mengendapkan polutan berkurang signifikan,” imbuhnya.
Sementara itu, data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada Senin pukul 11.00 WIB menunjukkan bahwa Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta mencapai angka 162 atau masuk dalam kategori “Tidak Sehat”, dengan polutan utama PM2,5 berada di level 71 µg/m³.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui citra satelit Himawari, indikasi sebaran asap dari wilayah Sumatera dan Kalimantan sempat melintas di lapisan atmosfer tinggi di atas Jakarta dan sekitarnya pada 16 Oktober 2026. Lapisan tersebut berada pada ketinggian beberapa kilometer dan tidak serta-merta berdampak langsung pada kualitas udara di permukaan yang dihirup masyarakat. (dan)

















