INDOPOSCO.ID – Musim kemarau bukan sekadar membawa cuaca panas. Di tengah vegetasi yang mengering dan risiko kebakaran yang meningkat, satu titik api dapat berkembang menjadi ancaman yang lebih besar apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Situasi itu menjadi perhatian PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Perusahaan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan membangun sistem penanganan yang tidak hanya mengandalkan respons ketika api sudah membesar, tetapi juga mengedepankan pencegahan, deteksi dini, hingga koordinasi lintas pihak.
Bagi NHM, karhutla memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas dari sekadar kerusakan vegetasi. Di wilayah operasional tambang, asap dapat mengganggu visibilitas, meningkatkan risiko keselamatan, menghambat aktivitas kerja, bahkan berpotensi menghentikan pekerjaan.
HSE System Specialist NHM, Andri Prasetyo mengatakan, karakter wilayah yang luas, cuaca terik, akses menuju lokasi yang tidak selalu mudah, serta cepatnya api menjalar menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla.
“Karhutla tidak bisa dipandang hanya sebagai kebakaran biasa. Dalam konteks operasional tambang, dampaknya bisa berantai, mulai dari asap dan menurunnya visibilitas, meningkatnya risiko keselamatan, terganggunya aktivitas kerja, sampai potensi penghentian pekerjaan. Karena itu, kami menyiapkan respons yang terstruktur untuk menghadapinya,” ujar Andri dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).
Karena itu, NHM membangun pertahanan sejak sebelum api muncul. Perusahaan memelihara buffer zone atau fire break di area yang berbatasan dengan hutan dan lahan rawan terbakar. Vegetasi kering serta material mudah terbakar dibersihkan secara berkala, sementara pemantauan hotspot dan kondisi cuaca dilakukan untuk menangkap potensi kebakaran sedini mungkin.
Pemetaan wilayah rawan juga dilakukan dengan mempertimbangkan histori kejadian, kondisi vegetasi, akses lokasi, dan faktor cuaca. Jalur kendaraan pemadam serta sumber air dipersiapkan, inspeksi terhadap sumber potensi api ditingkatkan, dan patroli diperkuat ketika risiko kebakaran meningkat.
Langkah pencegahan itu juga diperluas melalui sosialisasi kepada pekerja dan masyarakat sekitar. Di saat yang sama, NHM berkoordinasi dengan kepolisian, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas ESDM untuk bertukar informasi mengenai perkembangan kondisi lapangan, penanganan yang telah dilakukan, dan kebutuhan dukungan apabila diperlukan.
Ketika api terdeteksi, Emergency Response Team (ERT) menjadi salah satu ujung tombak respons di lapangan. Namun, tindakan pemadaman tidak dilakukan secara serampangan. Assessment menjadi langkah awal untuk memastikan respons berlangsung cepat sekaligus aman.
Captain ERT NHM, Hendrick Lesa, menjelaskan bahwa penanganan karhutla berada dalam struktur komando tanggap darurat yang terintegrasi. Management atau Incident Commander menjadi pengarah utama, sedangkan Command Center berfungsi sebagai pusat kendali informasi yang dipantau setiap hari pukul 14.00.
“Respons terhadap karhutla harus cepat, tetapi tetap aman. ERT tidak langsung masuk untuk memadamkan api begitu saja, melainkan melakukan assessment terlebih dahulu agar tindakan yang diambil tidak justru menempatkan personel dalam kondisi berbahaya,” kata Hendrick.
Respons tersebut melibatkan berbagai departemen, mulai dari HSE, Environment, Operation, Maintenance, Security, Klinik, Community Relations, Logistic, hingga Management. Setiap unsur memiliki fungsi masing-masing, dari pengambilan keputusan, pengamanan dan logistik, pemantauan dampak lingkungan, hingga komunikasi dengan pihak terkait.
Teknologi juga menjadi bagian dari sistem deteksi. Tim Drone Security berperan sebagai mata dari udara untuk menemukan titik api, terutama di wilayah luas dan sulit dijangkau secara langsung.
Sementara itu, sistem mitigasi NHM dibangun dalam tiga lapisan. First layer diisi ERT sebagai respons utama. Second layer diperkuat ERT Volunteer serta Fire Warden atau Fire Team dari departemen terkait. Adapun third layer merupakan dukungan sumber daya internal perusahaan untuk memastikan kebutuhan di lapangan tetap terpenuhi.
Departemen Civil turut memastikan jalan menuju titik api, jalur evakuasi, dan infrastruktur pendukung pemadaman dapat digunakan secara optimal.
Bagi NHM, kesiapsiagaan menghadapi karhutla bukan berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Setiap kejadian menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem dan memperkuat respons berikutnya.
Dengan pertahanan yang dibangun sejak tahap pencegahan, deteksi dini, respons berlapis, hingga koordinasi lintas pihak, NHM berupaya menjaga keselamatan pekerja, masyarakat, lingkungan, sekaligus memastikan kegiatan operasional dapat berlangsung secara aman dan berkelanjutan. (srv)
















