INDOPOSCO.ID – Perkembangan industri pengolahan nikel di kawasan Sulawesi terus memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi regional. Kebijakan pemrosesan mineral di dalam negeri ini tidak hanya memperpanjang rantai nilai komoditas, tetapi juga memperluas investasi, menyerap tenaga kerja lokal, serta menghidupkan ekosistem bisnis pendukung di sekitar wilayah operasional.
Dampak positif dari bergairahnya sektor pengolahan ini mulai tecermin pada angka statistik daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan II/2026 tumbuh sebesar 5,59 persen secara tahunan (year-on-year). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut mencapai Rp206,70 triliun atas dasar harga berlaku, yang menegaskan kuatnya kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan.
Nikel kini menempati posisi krusial dalam peta rantai pasok global, terutama sebagai bahan baku utama industri logam dan ekosistem kendaraan listrik. Kehadiran berbagai fasilitas pemurnian (smelter) di Sulawesi menjadi pemantik utama dalam menggeser basis perekonomian daerah yang sebelumnya sangat bergantung pada sektor primer.
Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai, integrasi rantai nilai kendaraan listrik di Tanah Air telah memperlihatkan progres yang signifikan dari sektor hulu hingga pemrosesan. Integrasi ini diproyeksikan akan memberikan daya dorong yang jauh lebih besar terhadap perekonomian daerah di masa mendatang.
”Kalau di upstream kita sudah high maturity, sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,” ujar Faisal di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Transformasi nyata dari pergeseran struktur ekonomi tersebut tercatat jelas di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Wilayah yang sebelumnya didominasi oleh sektor pertanian konvensional dan tambang mentah kini bertransformasi menjadi pusat kekuatan industri manufaktur mineral berbasis teknologi.
”Kalau dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, sekarang lebih dari 75 persen ekonominya ditopang sektor industri,” tambah Faisal, menegaskan perubahan substansial dalam peta PDRB wilayah tersebut.
Guna menjaga kelanjutan rantai pasok tersebut, sejujurnya komitmen investasi dari para pelaku industri skala besar terus mengalir. PT Vale Indonesia Tbk, anggota dari BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, memacu proyek pertumbuhan strategisnya di tiga titik utama, yakni Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
Pengembangan teknologi pemurnian tingkat lanjut seperti High Pressure Acid Leach (HPAL) disiapkan untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Komoditas intermediate ini menjadi komponen inti dalam rantai produksi material baterai kendaraan listrik dunia, sekaligus menaikkan taraf daya saing industri pertambangan nasional.
Kendati menawarkan lonjakan nilai tambah ekonomi yang menggiurkan, tantangan tata kelola industri berkelanjutan tetap perlu diantisipasi. Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dituntut memastikan bahwa ekspansi skala besar ini berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan, pelibatan UMKM lokal, transfer teknologi, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan industri. (adv)















