INDOPOSCO.ID – Indonesia memiliki sumber energi fosil dan energi terbarukan yang melimpah, namun kebutuhan energi nasional masih membuat negara ini bergantung pada impor. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan besar dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mendorong percepatan transisi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia.
“Di tengah kemewahan sumber energi fosil dan terbarukan yang kita miliki hari ini, kita masih impor. Nah, inilah kendala besar yang kita hadapi dari aspek ketahanan energi,” ujar Eddy saat menyampaikan materi dalam kegiatan AIPA–Indonesia National Focus Group Discussion on Climate Change di BINUS Alam Sutera, Tangerang, Banten, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Menurut politikus Fraksi PAN tersebut, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari negara lain.
“Sehingga kita harus melaksanakan transisi energi untuk memperkuat energi kita, mendapatkan energi yang lebih bersih, dan mengurangi ketergantungan kita dari energi impor,” tegas Eddy.
Selain ketahanan energi, Eddy menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat. Kebakaran hutan dan lahan serta berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia disebut menjadi tanda bahwa risiko perubahan iklim perlu mendapat perhatian lebih serius.
Karena itu, Eddy mendorong adanya penguatan kerangka hukum yang mampu mengintegrasikan kebijakan perubahan iklim secara lintas sektor dan lintas daerah. Salah satu langkah yang didorong adalah penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim yang Berkeadilan (RUU PPIB).
Menurutnya, kebijakan menghadapi perubahan iklim tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu sektor atau pemerintah pusat. Diperlukan koordinasi dan kebijakan yang terintegrasi agar upaya pengendalian dampak perubahan iklim dapat berjalan lebih efektif.
Eddy juga mengajak mahasiswa untuk mengambil peran dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai ancaman perubahan iklim. Ia menilai isu tersebut perlu ditempatkan sebagai persoalan penting yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional.
“Tugas kita, tugas teman-teman sekalian sebagai mahasiswa, untuk ikut membuat masyarakat tersadarkan bahwa climate change ini masalah penting, sama pentingnya dengan lapangan pekerjaan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, karena ancamannya ini besar sekali yang akan memengaruhi kehidupan kita, bahkan secara nasional,” pungkas Eddy.(dil)

















