INDOPOSCO.ID – Grup rookie HYBE, CORTIS, kembali menjadi sorotan setelah pernyataan fanbase mereka di China memicu perdebatan mengenai praktik streaming dan pembelian album dalam jumlah besar untuk mendukung performa grup di tangga lagu.
Kontroversi tersebut mencuat setelah muncul laporan mengenai dua penggemar asal China yang diduga menerobos tempat tinggal para member CORTIS. Di tengah polemik tersebut, sebuah fanbase CORTIS di China memberikan pernyataan untuk membela komunitas penggemar secara keseluruhan.
Dalam pernyataan itu, mereka menegaskan bahwa tindakan dua individu tidak seharusnya dikaitkan dengan seluruh penggemar CORTIS di China. Fanbase tersebut juga mengungkap besarnya dukungan yang telah mereka berikan kepada grup.
“Kami menghabiskan jutaan untuk membeli album, begadang semalaman melakukan streaming lagu-lagu mereka, dan menggunakan uang kami sendiri untuk membantu mereka tampil di panggung yang lebih besar.”
Mereka kemudian menegaskan bahwa tindakan dua orang yang diduga melakukan pelanggaran hukum tidak dapat dijadikan alasan untuk menyalahkan seluruh fanbase China.
“2 orang ≠ 1,4 miliar rakyat China. Kriminal ≠ Penggemar China.”
Namun, pernyataan tersebut justru memicu reaksi berbeda di kalangan netizen Korea. Sebagian pengguna menafsirkan pengakuan mengenai pembelian album dan streaming dalam jumlah besar sebagai indikasi adanya streaming terorganisasi yang bertujuan meningkatkan performa CORTIS di chart musik domestik.
Meski demikian, pernyataan tersebut tidak secara eksplisit mengakui adanya manipulasi atau kecurangan terhadap sistem chart Melon. Pengakuan yang disampaikan fanbase lebih berkaitan dengan besarnya aktivitas pembelian album dan streaming yang mereka lakukan untuk mendukung CORTIS.
Perdebatan pun menyebar ke berbagai komunitas daring Korea. Sejumlah netizen mempertanyakan sejauh mana aktivitas streaming terkoordinasi dan pembelian album dalam jumlah besar dapat memengaruhi performa artis di tangga lagu Korea Selatan.
Salah satu komentar bahkan menyebut:
“Chart musik Korea benar-benar sudah hancur.”
Komentar lain mempertanyakan apakah fenomena tersebut hanya terjadi di kalangan fanbase China. Ada pula netizen yang menilai fanbase dari Jepang dan negara-negara Asia Tenggara juga telah lama menggunakan berbagai metode untuk mendukung artis idola mereka.
Di sisi lain, sejumlah warganet justru menganggap polemik tersebut tidak seharusnya diarahkan hanya kepada CORTIS. Mereka berpendapat bahwa aktivitas streaming dan promosi berbasis fandom telah menjadi bagian dari persaingan industri K-Pop selama bertahun-tahun.
Sejumlah komentar di komunitas daring bahkan membawa nama agensi dan grup lain dalam perdebatan mengenai perubahan ekosistem chart musik Korea.
Kontroversi ini pada akhirnya memperlihatkan persoalan yang lebih luas mengenai fan-driven streaming, pembelian album dalam jumlah besar, serta pengaruh fandom internasional terhadap performa artis di tangga lagu Korea Selatan.
Seperti dikutip dari Koreaboo, perdebatan tersebut masih berlangsung di komunitas daring Korea. Namun, berdasarkan pernyataan yang beredar, belum terdapat bukti independen yang membuktikan bahwa fanbase CORTIS secara resmi melakukan manipulasi sistem chart Melon.
Dengan demikian, istilah “manipulasi chart” dalam polemik ini masih merupakan tuduhan dan interpretasi sebagian netizen, bukan fakta yang telah dikonfirmasi oleh Melon maupun pihak terkait. (mg166)


















