INDOPOSCO.ID – Di tengah derasnya arus isu publik, komunikasi Istana dinilai mulai menunjukkan perubahan arah yang lebih adaptif. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati, melihat adanya respons yang semakin cepat terhadap berbagai dinamika yang berkembang.
Hal itu sekaligus memperkuat pernyataan analis komunikasi politik Hendri Satrio yang menyebut komunikasi Istana kini sudah membaik meski masih terasa spontan.
“Saya pikir komunikasi Istana memang sudah responsif dengan isu-isu aktual,” kata Wasisto melalui gawai, merespon pernyataan Hendri Satrio tersebut, Minggu (12/4/2026).
Meski begitu, ia menilai ada ruang yang masih bisa dioptimalkan, terutama dari sisi kelembagaan. Wasisto menekankan pentingnya peran Badan Komunikasi (Bakom) untuk tidak sekadar hadir, tetapi benar-benar menjadi garda terdepan dalam menyampaikan narasi pemerintah.
“Ada baiknya pula peran Bakom ini lebih aktif dan terdepan dalam menyampaikan pandangan pemerintah ke publik, karena Bakom ini yang mempunyai tugas utama sebagai lembaga komunikasi, tujuannya supaya pesan yang disampaikan sesuai dengan tugas utama institusi itu,” ucap Wasisto.
Menurutnya, selama ini figur seperti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memang ikut tampil dalam komunikasi publik. Namun, beban kerja administratif membuat peran tersebut tidak bisa maksimal di ruang komunikasi.
“Tentunya peran Seskab dan Mensesneg lebih banyak di urusan administrasi negara yang itu sudah menyita banyak perhatian, meski begitu Bakom itu perlu dimunculkan juga supaya lembaga ini terlihat perannya di ruang publik,” tuturnya.
Sebelumnya, Hendri Satrio juga menyoroti adanya perubahan signifikan dalam gaya komunikasi Istana. Ia melihat keterlibatan aktif Seskab menjadi salah satu faktor pendorong.
“Saya melihat ada perbaikan yang sangat signifikan dari pola komunikasi politik di lingkungan Istana, terutama saat Seskab Teddy makin aktif dalam memainkan peran ini,” kata Hensa -sapaan Hendri Satrio- belum lama ini.
Lebih dari sekadar frekuensi, Hensa menilai kualitas pesan kini menjadi pembeda utama. Ia melihat pendekatan yang lebih ringkas dan tepat sasaran mulai terasa.
“Yang menarik, perbaikannya bukan karena Istana jadi lebih banyak bicara, tapi karena yang disampaikan terasa lebih tepat, lebih singkat, dan langsung ke pokok persoalan,” ungkap Hensa.
Tak hanya itu, perubahan nada komunikasi juga menjadi sorotan. Dari yang sebelumnya cenderung defensif, kini mulai bergeser ke arah yang lebih menawarkan solusi.
“Kalau pola ini dijaga, publik bisa melihat bahwa ada kematangan baru dalam cara Istana mengelola komunikasi,” tambahnya.
Dengan tren yang mulai terbentuk ini, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi—sekaligus memastikan bahwa komunikasi pemerintah tidak hanya cepat, tetapi juga terstruktur dan memiliki pusat kendali yang jelas. (her)








