INDOPOSCO.ID – Di tangan yang tepat, sampah dapur bukan lagi persoalan lingkungan, melainkan aset ekonomi yang mampu melindungi nilai bisnis perusahaan. Inilah yang dibuktikan oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melalui program pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Gunung Kidul.
Inovasi TJSL tersebut mengantarkan PLN EPI meraih penghargaan Platinum Alignment dalam ajang Nusantara CSR Awards (NCSRA) ke-17 yang diselenggarakan oleh La Tofi School of Social Responsibility di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Program bertajuk Pengelolaan Sampah Organik Dapur (SOD) melalui budidaya maggot BSF ini mencatat skor tinggi 90,80 pada kategori ketahanan ekonomi masyarakat dan rantai nilai. Lebih dari itu, program ini juga meraih predikat Corporate Economic Protection Index (CEPI) Champion Candidate dengan nilai 2,72. Artinya, setiap Rp1 investasi CSR yang dikeluarkan mampu melindungi sekitar Rp2,72 nilai ekonomi perusahaan dari eksposur risiko operasional.
Maggot BSF: dari Limbah Rumah Tangga ke Ekonomi Sirkular
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sampah organik rumah tangga diolah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi tinggi lewat budidaya maggot BSF. Skema ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat rantai pasok yang relevan dengan bisnis perusahaan.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan capaian ini menjadi bukti nyata transformasi CSR sebagai bagian dari strategi bisnis.
“Penghargaan ini menunjukkan program TJSL PLN EPI tidak hanya berorientasi sosial, tetapi juga mampu menciptakan perlindungan nilai ekonomi perusahaan secara nyata dan terukur. Inilah arah baru CSR yang kami dorong,” katanya.
Menurut Mamit, pengelolaan sampah organik berbasis maggot bukan sekadar solusi lingkungan, tetapi pembentukan ekosistem ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah bagi masyarakat sekaligus menopang keberlanjutan bisnis perusahaan.
CSR Berbasis Risiko, Bukan Sekadar Donasi
Chairman La Tofi School of Social Responsibility sekaligus Principal Assessor La Tofi ESG Rating, La Tofi, menyampaikan NCSRA 2026 menghadirkan paradigma baru dalam praktik CSR di Indonesia.
“CSR bukan lagi sekadar aktivitas sosial, melainkan instrumen strategis untuk melindungi ekonomi perusahaan. Program yang dirancang berbasis risiko akan kembali sebagai perlindungan ekonomi yang nyata dan terukur,” jelasnya.
La Tofi menambahkan, kehadiran indikator CEPI kini membuat keberhasilan CSR dapat diukur secara konkret.
“Hari ini, CSR tidak lagi dinilai dari seberapa besar yang diberikan, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil dilindungi,” tuturnya.
Selaras SDGs dan Prinsip ESG
Program TJSL PLN EPI ini turut mendukung pencapaian SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta sejalan dengan komitmen perusahaan dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Bagi PLN EPI, TJSL kini bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan investasi strategis: mengubah risiko menjadi nilai, limbah menjadi sumber daya, dan masyarakat menjadi mitra dalam membangun ketahanan bisnis berkelanjutan.(srv)








