INDOPOSCO.ID – Langkah ekspansif kembali ditegaskan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Rabu (8/4/2026). Seluruh agenda rapat disepakati, mulai dari pengesahan laporan keuangan tahun buku 2025 hingga perombakan jajaran Dewan Komisaris dan Direksi.
Salah satu sorotan utama datang dari keberhasilan perseroan mengamankan Perjanjian Jual Beli Listrik atau PPA untuk Proyek Pongbembe berkapasitas 20 Megawatt (MW). Proyek ini menjadi pembangkit keenam sekaligus yang terbesar dalam portofolio perusahaan. Dengan masa kontrak selama 30 tahun sejak beroperasi, proyek ini ditargetkan mulai menyuplai listrik pada 2030, dengan estimasi produksi mencapai 97.218 megawatt-hour (MWh) per tahun yang seluruhnya akan diserap oleh PLN.
Dari sisi kinerja, perusahaan menunjukkan akselerasi yang signifikan sepanjang 2025. Pendapatan tercatat sebesar Rp343,3 miliar atau tumbuh 43,7 persen secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan produksi listrik yang mencapai 151,8 MWh, meningkat 56,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh mulai beroperasinya proyek Yaentu serta konsistensi dalam menjaga pasokan energi.
Performa operasional tersebut berdampak langsung pada profitabilitas. Laba bersih meningkat 52,9 persen menjadi Rp63,9 miliar, sementara margin laba bersih ikut terkerek menjadi 18,6 persen atau naik 111 basis poin secara tahunan.
“Tidak hanya fokus pada pengembangan bisnis, lebih dari itu, perseroan juga berkontribusi bagi Indonesia dengan melakukan pengurangan gas rumah kaca melalui proyek pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan,” ujar Komisaris Utama ARKO, Arya Pradana Setiadharma dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/4/2026).
“Sejak tahun 2017 hingga 2025, Perseroan berhasil mencatatkan reduksi emisi sebesar ±277.241 ton CO₂eq. Setelah Proyek Tomoni dan Proyek Pongbembe mulai beroperasi, kami memperkirakan total reduksi emisi akan bertambah ±181.503 ton CO₂eq per tahun. Dengan demikian, target Net Zero Emission pada 2060 dapat semakin cepat kita raih,” tambahnya.
Di sisi tata kelola, RUPST juga menetapkan perubahan penting dalam struktur manajemen. Perseroan menerima pengunduran diri Iwan Hadiantoro dan Boy Gemino Kalauserang yang akan melanjutkan penugasan di Grup Astra. Sebagai pengganti, RUPST menyetujui pengangkatan Chinthya Theresa sebagai Komisaris serta Terry Tando sebagai Direktur.
Direktur Utama, Aldo Artoko, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pejabat sebelumnya sekaligus optimisme terhadap jajaran baru.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kontribusi Bapak Iwan Hadiantoro serta Bapak Boy Gemino Kalauserang selama masa jabatannya. Kami mendoakan kesuksesan dalam menjalankan amanah profesional selanjutnya,” katanya.
Aldo juga menyampaikan harapannya agar jajaran Dewan Komisaris dan Direksi yang baru dapat semakin memperkuat fungsi pengawasan dan tata kelola perusahaan, serta mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan kinerja Perseroan ke depan.
Dengan perubahan tersebut, susunan terbaru manajemen perusahaan kini terdiri dari Arya Pradana Setiadharma sebagai Komisaris Utama, didampingi Chinthya Theresa dan Indarto sebagai Komisaris. Sementara itu, jajaran Direksi dipimpin oleh Aldo Artoko bersama Ricky Hartono, Ismu Nugroho, dan Terry Tando.
Dengan kombinasi ekspansi proyek, kinerja keuangan yang solid, serta penyegaran manajemen, ARKO menegaskan posisinya sebagai pemain energi terbarukan yang kian agresif sekaligus berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. (her)










