INDOPOSCO.ID – Panasnya tensi geopolitik dunia ikut membayangi stabilitas ekonomi global. Namun, semangat masyarakat Indonesia untuk menyiapkan dana haji tetap tak tergoyahkan. Bukannya surut, geliat tabungan haji justru kian menguat sejak memasuki awal 2026, menunjukkan daya tahan yang solid di tengah tekanan eksternal.
Data dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencatat, hingga awal April 2026, total dana haji yang terhimpun telah menembus di angka hampir Rp181 triliun. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa aspirasi masyarakat untuk menunaikan ibadah haji tetap terjaga, bahkan saat kondisi global sedang tidak menentu.
Sejumlah bank syariah pun merasakan dampak positif tersebut. Layanan tabungan haji mencatatkan pertumbuhan yang konsisten sejak awal tahun, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mempersiapkan ibadah jangka panjang.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat, menilai bahwa dinamika konflik global saat ini belum menyentuh langsung sektor ini.
“Sejauh ini, konflik dunia belum berdampak langsung terhadap pertumbuhan tabungan haji. Potensinya masih sangat besar, terutama karena faktor religiusitas masyarakat Indonesia yang kuat,” ujar Emir melalui gawai, Kamis (9/4/2026).
Menurut Emir, ke depan bank syariah akan semakin agresif dalam mengembangkan inovasi layanan. Salah satu yang diproyeksikan adalah integrasi langsung antara tabungan haji dan sistem pendaftaran resmi pemerintah, yang akan membuat prosesnya lebih praktis dan transparan.
“Ke depan, kita bisa melihat layanan tabungan haji yang terhubung langsung dengan sistem pendaftaran di kementerian terkait. Ini tentu akan meningkatkan kenyamanan sekaligus minat masyarakat,” jelasnya.
Tak hanya itu, strategi ekspansi juga akan menyasar segmen yang selama ini belum tergarap optimal—generasi muda dan pekerja di fase awal karier. Dengan antrean haji yang semakin panjang, kesadaran untuk mulai menabung lebih dini menjadi kunci.
Meski diakui bahwa gejolak geopolitik dapat berdampak pada ekonomi makro seperti nilai tukar dan daya beli, Emir menegaskan bahwa pengalaman selama ini menunjukkan ketahanan niat masyarakat.
“Selama kondisi ekonomi rumah tangga masih relatif stabil dan kepastian penyelenggaraan haji terjaga, minat menabung haji akan tetap ada,” tambahnya.
Pada akhirnya, keberlanjutan tren positif ini sangat bergantung pada kepercayaan publik. Transparansi, keamanan, dan kepatuhan terhadap prinsip syariah menjadi fondasi utama yang harus terus dijaga oleh para pengelola.
Dengan karakter masyarakat Indonesia yang menjadikan haji sebagai cita-cita spiritual jangka panjang, tabungan haji bukan sekadar produk keuangan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang terus dirawat, bahkan di tengah badai global. (her)








