INDOPOSCO.ID – Di tengah lanskap global yang semakin tidak menentu, PT Pertamina (Persero) memilih tidak sekadar bertahan tetapi melangkah lebih agresif. Tahun 2026 dipandang bukan hanya sebagai periode penuh tantangan, melainkan momentum untuk memperkuat pijakan sebagai tulang punggung energi nasional.
Dari Grha Pertamina di Jakarta pada Selasa (7/4/2026), Direktur Utama Simon Aloysius Mantiri menegaskan arah baru perusahaan dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Ia menggarisbawahi bahwa dinamika global mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga energi tidak bisa dihadapi dengan pendekatan biasa.
“Namun di tengah semua itu, Pertamina tetap berdiri kokoh menjadi garda terdepan penopang kehidupan masyarakat. Ini menegaskan bahwa Pertamina bukan hanya entitas bisnis, tetapi juga bagian dari solusi bagi bangsa Indonesia,” ujar Simon.
Tahun sebelumnya menjadi fase ujian yang tidak ringan. Tekanan ekonomi global, naik-turunnya harga energi, hingga kompleksitas operasional memaksa perusahaan untuk beradaptasi cepat. Namun, dari situ pula Pertamina meramu strategi baru yang lebih terukur dan adaptif.
Menghadapi 2026, perusahaan merancang lima pendekatan utama: disiplin biaya yang lebih ketat, peningkatan keandalan operasional, investasi yang selektif dan strategis, organisasi yang lincah, serta dorongan inovasi yang berkelanjutan. Strategi ini dirancang untuk memastikan Pertamina tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memanfaatkan celah peluang di tengah ketidakpastian.
Faktor geopolitik menjadi perhatian utama. Ketegangan di kawasan Timur Tengah serta tekanan di jalur vital seperti Selat Hormuz menjadi variabel yang terus dipantau karena berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Namun bagi Pertamina, tekanan tersebut justru dilihat sebagai ruang untuk meningkatkan efisiensi terutama melalui optimalisasi kilang dan peningkatan kualitas produk energi. Targetnya jelas: memperluas volume penjualan sekaligus memperkuat daya saing.
“Di tengah gejolak global yang semakin kompleks, peran Pertamina sebagai Soko Guru Energi atau penopang ketahanan energi nasional menjadi semakin penting. Eksistensi Pertamina di tahun 2026 bukan hanya tentang pertumbuhan. Ini tentang ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional, karena itu Pertamina tidak bisa bekerja biasa-biasa saja,” tegasnya.
Senada, Komisaris Utama Mochamad Iriawan menilai kondisi saat ini sebagai ujian nyata bagi ketahanan perusahaan. Fokus utama dalam jangka pendek tetap pada stabilitas pasokan energi bagi masyarakat.
“Kondisi yang saat ini terjadi bukan situasi normal. Ini “stress test” bagi Pertamina, sehingga respon Pertamina tidak boleh biasa-biasa saja. Pertamina harus bekerja over-maksimal,” tutup Iriawan.
Lebih dari sekadar menjaga pasokan, Pertamina juga terus menegaskan perannya dalam transisi energi. Komitmen menuju target Net Zero Emission 2060 tetap menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang, selaras dengan implementasi prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis.
Dengan koordinasi bersama Danantara, Pertamina menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan bukan hanya untuk bisnis semata, melainkan juga untuk memastikan keberlanjutan energi dan masa depan lingkungan Indonesia.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, satu hal yang ingin ditegaskan Pertamina: energi Indonesia harus tetap menyala apa pun yang terjadi. (her)








